Beranda > Writing in Print Media > Islam bukan Komoditas

Islam bukan Komoditas

Oleh : Deni Andriana

Judul Buku = Assalamualaikum: Islam Itu Agama Perlawanan
Penulis = Eko Prasetyo
Penerbit = Resist Book
Tahun Cetak = Cetakan I, Oktober 2005
Tebal = 175 Halaman

DI mana keberadaan organisasi dan partai Islam ketika kebijakan pemerintah mengimpit kehidupan rakyat kecil? Sampai di mana peran para pemuka Islam, ulama, ketika tayangan atau industri media mengeksploitasi nilai-nilai Islam? Apa dan harus bagaimana orang Islam melakukan perlawanan terhadap sistem yang menindas? Eko Prasetyo melalui bukunya, “Islam Itu Agama Perlawanan”, mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Maraknya tayangan keagamaan versi sinetron, seperti Rahasia Ilahi, Astagfirullah, Takdir Ilahi, sampai Si Yoyo adalah bukti bahwa agama telah menjadi objek menarik bagi industri media di Indonesia. Tayangan sinetron tersebut tidak lain adalah turunan dari tayangan-tayangan sebelumnya seperti, Uka-Uka, Dunia Lain, sampai Pemburu Hantu, yang menuai banyak kritikan. Kemudian muncullah istilah yang menyatakan bahwa tayangan-tayangan tersebut telah mengeksploitasi makhluk halus. Islam yang merupakan agama mayoritas di negeri ini tentu saja menjadi titik tolak dari tayangan yang “katanya” berating tinggi tersebut. Dengan menghadirkan ulama ataupun ustaz, kemasan acara menjadi lebih lengkap.

Tidak hanya dalam ranah media, baik cetak maupun elektronik, Islam telah menjadi komoditas yang unggul dan bernilai bisnis. Hal ini berlaku juga dalam dunia perpolitikan. Banyak organisasi dan partai Islam cenderung menjadikan Islam hanya sebagai “daya tarik” untuk merenggut dukungan masyarakat, terutama ketika menjelang pemilu. Namun, ketika masyarakat terjepit dengan kondisi-kondisi riil, seperti kenaikan harga BBM, mahalnya biaya pendidikan, kesehatan, dan kasus-kasus penggusuran, tidak ada gerakan konkret dari organisasi ataupun partai Islam yang ada. Semuanya seakan ikut terlarut di dalam setiap kebijakan yang kebanyakan berdampak buruk bagi orang miskin dan mayoritas masyarakat kita saat yang masih tergolong miskin, baik dari segi ekonomi, intelektual, ataupun keberanian menentang penindasan.

Bagaimana dengan peran para ulama? Dalam buku “Islam Itu Agama Perlawanan”, Eko Prasetyo menggambarkan bahwa peran ulama sejauh ini belumlah dirasa nyata dalam mengatasi permasalahan umat. Para ulama, sebagian malah tidak ambil bagian dalam upaya pembelaan rakyat dan bahkan ada juga yang mendukung kebijakan yang merugikan rakyat kecil.

Masyarakat yang membutuhkan gerakan konkret dari para tokoh “ulama”, malah hanya mendapatkan ceramah demi ceramah yang tidak mampu mengatasi kelaparan, penggusuran, buta huruf, ataupun buruknya kondisi kesehatan masyarakat. Kenapa tidak memberikan solusi konkret, seperti membuka sekolah murah (pesantren murah) dsb.? Kan ulama juga sudah banyak yang kaya raya, kenapa tidak membuka lapangan kerja bagi para pengangguran? Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang tersirat dalam buku ini.

Kasus korupsi yang melanda Departemen Agama (Depag), yang melibatkan pejabat-pejabatnya dalam penyelewengan Dana Abadi Umat adalah sebuah gambaran bahwa institusi yang diberi tanggung jawab dalam mengurusi umat itu juga tidak bersih dari kepentingan yang tidak memihak rakyat.

Islam hanya menjadi pelipur lara bagi derita orang-orang kecil. Alasan untuk bersabar dan bertawakal seakan telah menjadi doktrin Islam yang ampuh. Namun, hal itu bukan suatu solusi terhadap permasalahan yang ada, sebuah gerakan yang konkret harus dilakukan oleh umat Islam dan pada akhirnya untuk umat Islam juga, bukan untuk segelintir orang yang menjadikan Islam sebagai komoditas di pasar kapitalisme.

Islam sebagai agama perlawanan, menurut Eko harus mengembalikan perlawanan masa lalu. Seperti spirit yang dibawa Nabi Muhammad saw yang tidak pernah kompromi terhadap ajaran walau dibujuk dengan jabatan dan kekayaan. Spirit yang membentuk pribadi Muslim sebagai sosok yang selalu mempertanyakan jalannya sebuah sistem, apalagi kalau sistem tersebut kemudian melahirkan korban.

Yang pasti, buku ini adalah sebuah cermin yang di dalamnya terdapat wajah buruk dari kehidupan beragama “umat Islam” yang terpantul dari realitas yang ada di sekitar kita. Dalam buku ini, Eko juga melengkapi wacana yang diusungnya dengan data-data di lapangan, baik itu informasi dan kutipan dari media massa, ataupun hasil risetnya di lapangan yang kebanyakan dilakukan di tengah-tengah aktivitasnya sebagai juru kompor di organisasi Islam baik kategori mahasiswa ataupun gerakan pemuda.

Selain itu, buku ini menjadi lebih menarik dengan dilengkapi gambar atau karikatur berteks nakal yang mampu untuk mengocok perut dan kesadaran kita, karena ternyata seperti itulah keadaan lingkungan kita selama ini, yang terjadi tapi kita tidak menyadarinya.

Dalam pengantarnya, Eko yang sebelumnya telah menelurkan “Islam Kiri – Jalan Menuju Revolusi Sosial”, “Orang Miskin Dilarang Sekolah”, dan beberapa seri kritisnya, mengatakan, “Buat saya buku ini adalah jalan kembali saya untuk menyapa lagi gerakan muda Islam yang kini sedang bergairah untuk menata kembali pandangan-pandangan sosialnya.”

(Dimuat : Kampus/Pikiran Rakyat/Kamis, 15 Desember 2005)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: