Beranda > Writing in Print Media > Duta Daerah di Tanah Rantau

Duta Daerah di Tanah Rantau

Efek bencana tsunami yang menghantam Provinsi Nangroe Aceh Darussalam setahun silam tidak hanya dirasakan masyarakat Aceh di sana, namun juga oleh orang-orang Aceh di perantauan. Bandung sebagai salah satu kota pendidikan menjadi saksi atas banyaknya mahasiswa asal Tanah Rencong yang mengalami kesulitan biaya akibat lumpuhnya sektor ekonomi di provinsi terbarat di Indonesia itu.

Berbagai bantuan kemanusiaan, termasuk beasiswa, muncul baik dari universitas tempat mereka belajar maupun dari pemerintah dan lembaga-lembaga donor. Asrama mahasiswa yang beralamat di Jln. Cicendo No. 9 pun mencuat sebagai salah satu pusat informasi dan posko bantuan untuk Aceh di wilayah Bandung. Tak salah. Itu adalah asrama Keluarga Masyarakat Aceh (Kamaba). Sebagai wadah komunikasi antarmasyarakat Aceh yang berdomisili di Bandung, Kamaba dipandang sebagai organisasi yang tepat untuk aksi tersebut.

Berorganisasi –baik organisasi internal kampus maupun organisasi eksternal kampus seperti Karang Taruna– merupakan hal lazim yang dilakukan mahasiswa. Pada dasarnya organisasi dibangun sebagai wadah untuk mencapai tujuan bersama antaranggotanya. Begitu pula organisasi dalam bentuk asrama mahasiswa rantau. Organisasi ini biasa disebut organisasi primordial atau organisasi kedaerahan, yang hakikatnya berorientasi sebagai wadah komunikasi antara mahasiswa sedaerah.

Kini sebanyak 25 orang mahasiswa asal serambi Mekah mendiami asrama Kamaba yang sudah berdiri sejak 1960-an. Wisma ini juga disebut Ama-WTU (Asrama Mahasiswa – Wisma Teuku Umar). “Sebenarnya asrama ini dibentuk untuk mahasiswa. Tidak ada lowongan untuk orang-orang yang bukan mahasiswa di sini. Mereka mempunyai program studi yang jelas di Bandung,” ujar Ferry Munandar, Ketua Asrama Kamaba.

Ferry yang juga mahasiswa Fakultas Teknik Unisba ini menambahkan, orang Aceh non-mahasiswa pun bisa tinggal di asrama, terutama mereka yang datang ke Bandung dan tidak mempunyai tempat tinggal. Namun mereka hanya mendapatkan kesempatan selama 1-2 minggu sembari mencari tempat tinggal sendiri.

Sementara di Jln. Cihampelas No. 89, terdapat asrama Gunung Kerinci Jambi. Asrama yang didirikan 19 September 1979 ini menampung 20 orang mahasiswa. “Asrama ini berdiri karena mahasiswa Jambi banyak yang hijrah ke Bandung. Jadi, mahasiswa mengusulkan (pendirian asrama-red) ke Gubernur Jambi dan kebetulan yang menjabat Gubernur Jambi itu orang Jawa Barat. Alhamdulillah diterima. Dibeli tanah di sini dan bangunannya,” ungkap Sie Pendidikan dan Rohani Asrama Jambi Arif Munandar.

Rata-rata asrama mahasiswa rantau di Bandung mempunyai kaitan dengan pemerintah daerah (pemda) masing-masing. Pemda yang bersangkutan memberi fasilitas berupa sarana atau sumber dana kegiatan. Bahkan di beberapa asrama, seperti asrama Latimodjong Sulawesi Selatan, setiap mahasiswa mendapatkan dana Rp 450.000,00 per tiga bulan. Begitu juga dengan asrama Mahasiswa Riau (Raja Ali Haji). Setiap mahasiswa memperoleh dana per semester.

Asrama Mahasiswa Papua, yang terletak Jln. Cilaki No. 59 pun mendapatkan perhatian yang sama dari pemdanya. “Biaya operasional di sini, misalnya bayar listrik dan air, kita iuran tiap bulan. Namun, kita memang ada bantuan-bantuan dari pemerintah daerah setiap bulan,” ungkap Ketua Asrama Mahasiswa Papua Zacha.

Namun menurut pengakuan para pengurus asrama, kadang dana kiriman dari pemda tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan asrama. Jalan keluarnya melakukan penarikan iuran dari setiap penghuni asrama. “Di sini ada tiga status keanggotaan. Calon anggota sementara ditarik iuran Rp 82.000,00, anggota sementara Rp 61.500,00, dan anggota tetap Rp 41.000,00 per bulan. Dana ini membiayai operasional, seperti bayar listrik, kebersihan. Kalau dana kegiatan, kita mendapat stimulan dari pemprov,” kata Sekretaris Asrama Mahasiswa Kalimantan Timur Wary Soeknedy.

Berbeda dengan asrama lainnya, asrama mahasiswa Lebak Banten (Kumala), malah tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerahnya. “Masalah pendanaan justru kurang ada perhatian. Kalau ada kebocoran, kita biasanya patungan. Listrik, telefon, kita bayar dari iuran tiap penghuni. Tidak ada suplai dana tiap bulan dari pemda, kecuali kalau kita mengajukan proposal. Itu juga kalau disetujui,” ujar Ketua Asrama Mahasiswa Lebak Adi Firman Lutfhi.

Di sisi lain, kedudukan asrama yang dekat dengan pemerintah daerahnya menimbulkan anggapan bahwa para anggotanya kelak setelah lulus kuliah mempunyai jaminan bekerja di pemda. Anggapan itu oleh beberapa asrama dengan tegas dibantah walaupun pada intinya mereka mengakui bahwa mereka adalah para duta daerah yang nantinya membangun wilayah masing-masing. Mereka menganggap jika ada yang berhasil bekerja di pemerintahan daerah, itu lebih disebabkan oleh hasil kerja keras dan kepandaian masing-masing anggota yang memanfaatkan kedekatan asrama dan Pemda. “Bergantung kepada kepandaian kita mengambil hati pejabat,” ujar Ketua Asrama Mahasiswa Riau Hendra.

Ketua asrama mahasiswa Pandeglang Asep Palahudin memandang bahwa kalaupun ada jalur ke pemda, maka harus ada kualifikasi yang ketat. Hal seperti ini menurutnya dimaksudkan agar tidak menimbulkan kecemburuan terutama dari mahasiswa yang tidak tergabung dalam asrama. “Ini kabar yang mungkin kurang enak di mata mahasiswa. Tidak ada jatah-jatahan,” jelas Asep.

Senada dengan Asep, Wary Soeknedy juga mengungkapkan, jika masalah kerja dan masa depan para penghuni asrama Kalimantan Timur adalah urusan masing-masing individu anggotanya. Namun ia meyakinkan bahwa, “Kalau kerja di daerah ya pasti mengutamakan putera daerah, tidak hanya yang tinggal di asrama ini.”

Diskusi hingga demonstrasi

Asrama mahasiswa biasanya mempunyai fokus pada kegiatan yang mempererat tali persaudaraan antaranggotanya. Namun lazimnya organisasi mahasiswa, organisasi-organisasi primodial ini juga melakukan kegiatan-kegiatan seperti mengadakan diskusi, seminar, atau pentas kebudayaan.

Asrama mahasiswa Lampung memiliki galeri seni dan kebudayaan yang berupaya memamerkan produk kerajinan serta kesenian daerah mereka. Asrama ini lebih fokus pada kegiatan-kegiatan kebudayaan, seperti pagelaran seni budaya nusantara yang dilaksanakan pada Oktober 2005 lalu. Kegiatan itu melibatkan semua asrama yang ada di Bandung.

Kegiatan yang melibatkan asrama-asrama lain juga dilakukan asrama Sulawesi Selatan dengan program kegiatan pengajian eksternal yang dilakukan dua kali dalam setahun dan juga kegiatan donor darah.

Kegiatan asrama mahasiswa Aceh malah sudah menyentuh langsung masyarakat di sekitar lingkungannya. “Di sini diadakan TK/TPA setiap malam dalam seminggu tiga kali. Kita juga punya sanggar tari dan bekerja sama dengan paguyuban Bandung. Banyak sekali acara-acara di luar yang ingin menampilkan kesenian Aceh. Mereka mengontak kita, jadi kita yang tampil,” papar ketua asrama, Ferry Munandar.

Sebagai kontribusi bagi daerah asal, hampir semua asrama mempunyai program pengenalan kampus kepada adik-adiknya yang masih duduk di bangku SMA dan yang hendak melanjutkan pendidikan ke Bandung. Kegiatan meliputi try out bersama sampai pada pengenalan asrama sebagai ajang pemberitahuan kelak jika melanjutkan pendidikan di Bandung, mereka mempunyai wadah komunikasi yang bisa digunakan.

Selain program pengenalan, asrama seperti Keluarga Mahasiswa Pandeglang (Kumandang) sering mengadakan kegiatan sosial baksos di daerahnya asalnya. Sementara asrama Gunung Kerinci Jambi memilih mempromosikan daerahnya. “Tempat di sini dulu pernah mau dijadikan pusat promosi pariwisata, tapi belum sempat digarap secara serius. Namun kalau ada yang mau bertanya ya kita layani, seperti dulu ada mahasiswa pencinta alam yang mau mendaki gunung,” kata Sie Pendidikan dan Rohani Asrama Jambi Arif Munandar.

Kegiatan politik praktis seperti demonstrasi pun tak luput sebagaimana pernah dilakukan Kumala. Soal kegiatan ini, Asrama Papua sangat berhati-hati. “Kita bisa berpolitik praktis, tapi kita tidak bisa membawa bendera kita. Biasanya, kita membaur dengan organisasi yang ada atau kita sendiri yang membentuk organisasi. Seperti pada waktu proses menurunkan Soeharto, kita di sini diberi tugas membuat bom molotov. Kita di sini bikin banyak,” kenang Zacha.

Menjelaskan mengenai isu-isu Papua, Zacha yang kini masih aktif sebagai mahasiswa Teknik Sipil ST Inten mengungkapkan, “Kita terlebih dahulu bersama teman-teman menyeleksi masalah. Kemudian, kita mengukur kekuatan, sejauh mana. Kita juga melihat posisi kita. Kita bergerak sesuai dengan aturan main, seperti apa.”

Minim peminat

Tidak semua mahasiswa rantau tinggal di asrama. Yang tinggal di asrama sekira lima persen dari keseluruhan mahasiswa rantau yang ada di kota Bandung. Memang sangat sedikit. Salah satu masalahnya adalah penyebaran mahasiswa di banyak kampus yang tidak terdata, sehingga jalur komunikasi di antara mereka macet.
Wary Soeknedy mengakui bahwa ia dan pengurus asrama memang kesulitan menghubungi teman-temannya dari sesama daerah, terutama saat asrama mengadakan kegiatan yang membutuhkan partisipasi mahasiswa Kaltim yang ada di Bandung. “Kami sudah membuat pamflet, leaflet, dan sebagainya terutama waktu penerimaan mahasiswa baru. Kita kadang-kadang datang ke kampus, memberi tahu biar mereka juga tahu bahwa ada wadah yang bisa menampung mereka juga di sini.”

Faktor lain adalah terbatasnya ruang atau kamar asrama. Namun beberapa asrama ternyata masih mempunyai banyak ruangan yang belum dimaksimalkan. Asrama mahasiswa Riau dihuni mayoritas mahasiswa yang sudah melewati batas waktu karena yang lain tidak mau tinggal di asrama.

Beberapa asrama menolak jika dikatakan bahwa kecilnya minat masuk asrama akibat persyaratan yang ditentukan terlalu berat. Berbagai persyaratan yang ditetapkan, misalnya, harus asli daerah yang bersangkutan, indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal, 2,75 (asrama Pandeglang). Asrama Lampung mengharuskan calon anggota telah menempuh kuliah dua semester. Ini dimaksudkan agar mahasiswa terlebih dahulu mengenal Kota Bandung sebelum masuk asrama.***

Tim Peliput : Deni Andriana, Ghusnul Thariq(Dimuat : Liputan Utama/Kampus/Pikiran Rakyat/Kamis, 12 Januari 2006)

————————————————————————————————

Visi dan Misinya Masih Belum Jelas

HUJAN batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang. Itulah pepatah klasik yang semakin tidak relevan dalam kehidupan modern seperti sekarang ini. Kehidupan modern menuntut manusia untuk mobile, bergerak dari satu wilayah ke wilayah yang lain.

Harus diakui, hidup makmur di kampung sendiri memang menjadi idaman setiap orang. Namun, apa boleh buat, jika di usia yang relatif muda, seseorang harus merantau untuk kuliah, termasuk di Bandung. Di sinilah pentingnya asrama mahasiswa sedaerah, sebagai mediasi yang menjembatani situasi asli daerah dengan kehidupan yang baru. Berikut ini beberapa tanggapan mengenai keberadaan asrama mahasiswa rantau dan organisasi primodial yang ada di Bandung:

Yuda Wira T.
Mahasiswa Ekonomi Widyatama, angkatan 2005, asal Medan.

“Menurut saya, asrama kesannya seperti terkekang gitu. Kita terpatok sama aturan-aturan yang dibuat oleh asrama. Sepertinya kita tidak ada kebebasan. Kebebasan itu sudah diapit. Tidak bebas seperti kita kalau di rumah sendiri. ”

Ical
Mahasiswa Ekonomi Widyatama, angkatan 2000, asal Palembang.

“Menurut aku, asrama itu, walaupun ada dampak sosial seperti ras, etnik, tapi di situ juga mereka dapat bertukar pikiran antara mereka sendiri, buat mereka juga dan buat kampungnya sendiri.”

Sri Aktaviyani
Mahasiswa Biologi ITB, angkatan 2001, asal Padang.

“Ikatan seperti itu menurut saya banyak manfaatnya. Setahu saya, sampai ada asrama yang membantu fasilitas seperti beasiswa, guna membantu mereka yang datang dari daerah ke Bandung. Asramanya itu sendiri bagi saya merupakan fasilitas. Jadi, ketika kita baru datang ke sini jelas mau ke mana? Dengan begitu, anak baru tidak kebingungan. ”

Hafidh Ramadani
Mahasiswa Desain Produk ITB, angkatan 2005, asal Jakarta.

“Yang saya tahu mahasiswa rantau kebanyakan ngekos gitu, atau ngontrak bareng teman-teman seasalnya. Kebanyakan sih mahasiswa zaman sekarang pengen bebas gitu. Dan kalau gua sendiri merasa nggak nyaman, kalau ada yang ngegap-ngegap. ”

Ruru
Mahasiswa Elektro UPI, angkatan 2003, asal Serang, Banten.

“Saya tidak begitu tertarik, karena kebanyakan visi misinya masih belum jelas, sehingga kalau terjun ke dalamnya saya juga masih ragu-ragu. Menyatukan visi dan misinya juga masih begitu sulit. Tapi kalau seandainya visi dan misinya sudah jelas dan bisa disatukan tujuannya itu tidak jadi masalah. ”

Tiky Nindita
Mahasiswa Psikologi Unisba, angkatan 2003, asal Pekanbaru.

“Tidak semua orang dari daerah tahu bahwa di Bandung ada ikatan dan asrama daerah. Karena dari beberapa teman saya ada yang seperti itu. Tapi kalau lihat dari orang-orang di asramanya itu kayaknya kekeluargaannya cukup kuat. Mereka masih mempertahankan kebudayaan daerahnya walaupun berada di daerah orang lain. ”

Rangga
Mahasiswa DKV Unikom, angkatan 2001, asal Bandung.

“Biasanya mahasiswa yang tinggal di asrama, sama teman-temannya punya sifat kekeluargaan. Mereka berbeda dengan mahasiswa rantau yang ngekos sendiri, cara gaulnya beda, lebih baik yang di asrama. Seharusnya di Bandung ini, ada asrama semua kotanya.”

Ahmad Fauzan
Mahasiswa Jurnalistik Unisba, angkatan 2001, asal Lampung.

“Kalau saya beranggapan bagus tinggal di asrama. Itu kan hanya tempat tinggal, dan setiap orang kan punya tujuan berbeda-beda, mungkin karena biayanya murah. Sebenarnya ada keinginan saya bergabung di asrama, tapi saya menikmati dengan keberagaman teman-teman saya, ada yang dari Sukabumi, Banten, ada yang dari Medan, mungkin sekalian belajar mengenai kebudayaan masing-masing dan watak teman-teman di sana. Makanya, saya mencoba untuk ngekos, tidak di asrama.” ***

Tim PeliputDeni Andriana, Ghusnul Thariq
Foto-foto : Rismawan Sulaeman(Dimuat : Liputan Utama/Kampus/Pikiran Rakyat/Kamis, 12 Januari 2006)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: