Beranda > Writing in Print Media > Entrepreneurial University, bukan Solusi!

Entrepreneurial University, bukan Solusi!

Oleh : Deni Andriana

DANA memang menjadi masalah penting dalam dunia pendidikan. Kondisi ini diperparah oleh perhatian pemerintah yang berencana mengesahkan RUU BHP (Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan).

Sebagaimana diangkat oleh Kampus (edisi 26 Januari), RUU BHP ini menyiratkan bahwa pemerintah hendak melepas tanggung jawab dalam mengelola pendidikan. Swastanisasi menjadi label yang tepat bagi kebijakan ini. Dan, jika ini terjadi, maka tidak ada bedanya antara PTS dan PTN, semuanya mahal!

Banyak solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah dana ini. Salah satunya disampaikan Rektor Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Numanaki melalui tulisannya di Kampus edisi 2 Februari, berjudul “Entrepreneurial University”, Aebuah Alternatif.

Bapak Numaki yang juga Guru Besar Univeritas Pendidikan Indonesia (UPI), menerangkan bahwa salah satu solusi yang harus dikembangkan universitas di Indonesia adalah menerapkan ide entrepreneurial university. Langkah ini menjadikan universitas sebagai lembaga yang berorientasi pada nilai-nilai usaha, di mana kemudian mengarahkan studinya untuk menerapkan How to make money bukan hanya How to think.

Langkah yang ditawarkan dari ide entrepreneurial university tersebut salah satunya adalah dalam mekanisme riset ataupun penelitian, di mana orientasi penelitian yang dilakukan harus mendobrak hal-hal yang hasilnya dapat dinikmati dalam pengembangan perusahaan. Artinya, penelitian yang dilakukan harus mengarah pada kebutuhan industri yang ada, sehingga efektivitas penelitian itu terjaga dan tidak menghasilkan penelitian yang sia-sia.

Dalam hal ini, sebuah universitas dapat melakukan kerja sama dengan sebuah perusahaan. Hubungan timbal balik antara universitas dan perusahaan akan menjadi topik dari setiap penelitian yang dilakukan, di mana perusahaan ikut mendanai biaya penelitian yang dilakukan dan kemudian hasil penelitian itu diserahkan kepada perusahaan untuk kepentingan usahanya. Riset ini pada hakikatnya merupakan penelitian yang mempunyai nilai komersil.

Selain dalam penelitian, konsep entrepreneurial university, yang digambarkan Bapak Numaki juga mengatakan bahwa sudah semestinya menyisipkan ruh-ruh wirausaha dalam mata kuliah ataupun ruang kuliah, sehingga efeknya kemudian dapat menciptakan mahasiswa yang mempunyai jiwa-jiwa sebagai wirausahawan. Kampus adalah wahana melatih dan mempertajam naluri berusaha dan mencari keuntungan secara materi dan hal ini kemudian berefek pada suplai dana bagi kampus sendiri.

Walaupun konsep yang ditawarkan Bapak Numaki yang diambil dari gagasan Prof. Dr. Yuyun Wirasasmita (mantan Rektor Unpad) yang berkaca pada perkembangan yang ada di Amerika Serikat dan negara Uni Eropa ini mempunyai prospek yang menguntungkan bagi universitas, namun di Indonesia seperti yang ditelaah oleh Bapak Numaki memang belum begitu antusias menanamkannya. Kebanyakan perguruan tinggi mengambil quasi entrepreneurial yang artinya adalah masih dalam tahapan atau percobaan menuju ke arah entrepreneurial. Salah satu tahap percobaan itu adalah melalui jual beli bangku kuliah dengan bandrol tertentu.

Mesin pekerja

Penulis mengambil kesimpulan bahwa ternyata konsep yang ditawarkan Bapak Numaki tersebut memang dapat mendorong terciptanya dinamika usaha yang gagah di dunia kampus. Selain menguntungkan universitas, usaha ini dapat memotivasi munculnya iklim riset dan inovasi di kampus yang selama ini diharapkan.

Namun, yang harus diperhatikan dari konsep entrepreneurial university ini adalah efeknya terhadap konsep diri dan identitas pendidikan itu sendiri, di mana kemudian akan melahirkan pendidikan yang semata-mata berorientasi pada keuntungan, tanpa memperhatikan aspek sosial yang ada.

Jelasnya, dengan skema entrepreneurial university, mahasiswa dan civitas academica kampus akan terjebak pada nilai-nilai industri dan materi dan menjauhkan kampus dari sisi sosial, seperti pengabdian kepada masyarakat, sebagaimana yang ditegaskan dalam UU Sisdiknas Pasal 24 perihal pendidikan tinggi.

Hal lain yang kemudian akan muncul, adalah terciptanya sebuah paradigma bahwa pendidikan diorientasikan untuk mencetak mesin-mesin pekerja yang berfungsi untuk melangggengkan sebuah kepentingan modal. Jika sebuah perusahaan misalnya yang menjalin kerja sama dengan sebuah universitas dalam mendukung konsep entrepreneurial university maka tidak menutup kemungkinan imbasnya adalah peruasahaan itu akan merasuki kurikulum pendidikan kampus yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhannya. Walaupun hal ini berimbas baik pada prospek jangka panjang para lulusan –karena nantinya mempunyai jaminan lapangan kerja– namun secara tidak langsung hal ini akan membatasi pengembangan dari mutu pendidikan itu sendiri.***

(Dimuat : Mimbar Akademik/Kampus/Pikiran Rakyat/Kamis, 09 Februari 2006)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: