Beranda > Writing in Print Media > Aktivis Kampus, bukan Sekadar Definisi

Aktivis Kampus, bukan Sekadar Definisi

Oleh : Deni Andriana

PERHELATAN wacana yang mengangkat tema “aktivis kampus” di Mimbar Akademik ini, yang diawali dengan tulisan Usep Saefulloh (Kampus/23 Maret) dan ditanggapi oleh dua tulisan (Kampus/6 April) masing-masing dari M. Ikhsan Shiddieqy dan Agustinus Ari Sutriesno, membuat saya tertarik untuk masuk ke dalam mimbar ini.

Aktivis kampus bergerak di jalur politik dan aktivis imajiner atau apa pun itu adalah bagian dari kehidupan dunia kampus. Sebagai miniatur negara, kampus memang memiliki keragaman, baik dari aktivitas, pola pikir sampai dengan identitas. Dan kemudian dari perbedaan atau pluralitas itu kampus menjadi tempat lahirnya banyak pelaku perubahan yang kemudian berbaur di masyarakat.

Sebelum masuk terlalu dalam, ada sebuah rekaman yang saya ingin sampaikan kepada sidang pembaca yang terhormat. Dikisahkan dari sebuah kampus imajiner, malam itu, empat orang mahasiswa tengah berdiskusi, sangat menarik, sampai-sampai mereka lupa jika hanya merekalah mahasiswa yang tertinggal di kampus. Sepi, hanya ada mereka berempat, lima orang satpam, selebihnya tidak ada siapa-siapa lagi.

Malam semakin larut dan diskusi semakin panas. Berbagai permasalahan dibahas, dari mulai kuliah, permasalahan sosial politik yang lagi hangat dipertontonkan oleh sejumlah media nasional, sampai masalah cinta dan perasaan. Sampailah mereka pada satu pembahasan!

A: “Kenapa sih kita harus jadi aktivis?”
B: “Pilihan hidup kali?!”
A: “Pilihan hidup kayak gimana?”
C: “Memang benda atau binatang semacam apa aktivis itu? Yang suka demonstrasi, suka mengkritik atau kayak gimana?”
D: “Aktivis itu orang yang aktif, itu saja!”
B: “Kalau begitu semua mahasiswa di kampus ini aktivis semua dong, lantas apa yang dimaksud apatis?”
D: “Semua itu hanya label!”
A: “Dan label itu ada karena suatu hal!”
B: “Misalnya?”
A: “Kalau menurut gua, aktivis itu adalah orang yang memiliki aktivitas lebih di dalam kampus selain kegiatan kuliahnya!”
B: “Kegiatan apa?”
A: “Kegiatan yang berguna buat orang banyak?”
C: “Masih abstrak kawan!”

Diskusi itu terus berputar di pembahasan definisi aktivis. Sementara, malam kian larut, dan sampai menjelang pagi definisi belum diketemukan, hingga akhirnya keempat mahasiswa itu sadar bahwa mereka sudah terjebak dalam sebuah kerangka pemikiran yang menempatkan manusia sebagai objek, bukan subjek.

Definisi berbeda dengan makna, jika memang definisi kemudian bisa disatu-frame-kan maka itu belum tentu berlaku pada makna, karena pemaknaan akan lebih rumit untuk digeneralisasi. Dan saya pribadi lebih tertarik untuk membahas makna daripada sekadar definisi.

Saya kurang sepaham dengan definisi yang diajukan kawan Agustinus tentang aktivis kampus, di mana aktivis kampus adalah orang-orang yang mau berpikir, berjuang dan bersedia menjadi pelaku perubahan yang mengarah kepada perbaikan nasib bangsa ini dengan segenap kemauan dan kemampuan. Dari definisi itu saya memaknai bahwa ada hal yang memang dilupakan oleh aktivis kampus hari ini, yakni kondisi teman-temannya yang lain (mahasiswa lain) yang katakanlah non-aktivis, artinya kemudian ada proses penyekatan dan pengotakan yang berakibat pada tidak terjadinya harmonisasi di kampus.

Saya pernah mendapatkan sebuah realitas, ketika teman-teman aktivis pergerakan di kampus saya melakukan demonstrasi, ternyata tidak mendapat simpati dari mahasiswa lainnya, malah ada yang tidak respect. “Tolong bilangin, jangan bakar ban, saya kan mau pulang jadi sesak sama asap!” ujar teman saya, menyampaikan protesnya.

Apa yang kemudian saya tangkap dari peristiwa itu, adalah kurangnya peran dari kawan-kawan yang menamakan dirinya sebagai aktivis dengan embel-embel fungsinya, untuk melakukan proses penyadaran terhadap mahasiswa lainnya. Bahkan yang lebih ngeri, sering muncul sikap egoistik di mana A adalah A dan B tidak sama dengan A. Maksudnya, latar belakang organisasi atau bendera organ menjadi jurang pemisah dari sebuah pergerakan yang kemudian memunculkan ketidak-sinergisan arah gerakan.

“Itu wajar, karena cita-cita setiap organ pasti berbeda!” kata seorang aktivis membantah. Kalaupun ada perbedaan, lantas wacana perubahan seperti apa yang kemudian akan diusung? Dan kenapa proses perangkulan itu sekadar dilakukan untuk pengaderan ataupun rekrutmen anggota semata?

Saya sepakat dengan wacana Usep Saefulloh yang menyatakan bahwa mahasiswa kini bukan lagi agen perubahan, tapi harus menjadi pelaku perubahan, yang kemudian saya maknai tidak lagi menjadi objek tapi menjadi subjek. Tidak lagi menjadi agen yang menerima pesanan perubahan dari rezim atau kekuasaan tertentu tapi menjadi pelaku dari perubahan itu sendiri yang tentunya dikehendaki oleh masyarakat luas.

Jadi harus bagaimana aktivis itu? Aktivis juga kan manusia?! Manusia yang bijak adalah manusia yang tidak melupakan hal-hal terkecil dalam hidupnya… (pepatah kuno). Tanpa maksud menggurui, dan tanpa mengesampingkan isu di luar atau masalah politik nasional, memang sudah sepantasnya kawan-kawan aktivis, baik pergerakan maupun non pergerakan, lebih dulu mengutamakan masalah-masalah di lingkungan terdekatnya dulu, sebelum melangkah jauh ke isu luar yang lebih besar. Misalnya, masalah kecacatan akademik dan sistem pendidikan di kampus, penyalahgunaan wewenang birokrat, penderitaan mahasiswa miskin di kampus dan masih banyak lagi isu yang sudah sepatutnya diperjuangkan sampai tuntas di kampus sendiri.

Baru ketika permasalahan di kampus sudah diatasi, atau katakanlah ideal, barulah saatnya bagi para aktivis untuk menyikapi fenomena luar yang lebih luas, di mana hal itu pun harus dengan jaminan bahwa para aktivisnya adalah orang-orang yang benar-benar bisa bertanggung jawab, minimal terhadap dirinya sendiri, yang menjadi salah satu barometer atau contoh ideal bagi kawan-kawan mahasiswa lainnya yang masih tertidur.

Menurut perkiraan skeptis saya, di dalam satu kampus di Bandung diperkirakan jumlah aktivis rata-rata 10-25% dari keseluruhan mahasiswa yang ada. Hal itu memang memberatkan bagi kawan aktivis yang ada, banyak hal terjadi di mana aksi mereka tidak mendapat dukungan dari kawan mahasiswa sekampusnya sendiri. Ini memang sangat ironis, tapi tidak akan menjadi beban ketika yang diperjuangkan adalah kepentingan bersama, dalam artian para kawan aktivis tersebut ikut memperjuangkan kepentingan mahasiswa lain yang terkesan apatis, yang notabene tidak berani berbicara dan bertindak walaupun pada dasarnya mereka juga merasakannya. Aksi untuk kepentingan bersama adalah langkah mulia dan pasti akan ada yang mendukung, walaupun kebanyakan hanya di dalam hati. Yang pasti posisi mahasiswa sebagai jangkar dan oposisi yang selalu mengambil garis tegas terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang terhadap rakyat, baik itu rakyat kampus maupun masyarakat luas pada umumnya senantiasa harus selalu dijaga.

Semoga gelar aktivis bukan dimaknai sebagai suatu status sosial yang perlu dibanggakan tapi menjadi sebuah posisi yang harus dipertanggungjawabkan! Terakhir, perjuangan adalah awal dari kenyataan… dan kenyataanlah yang akan mengantarkan perjuangan kita!***

(Dimuat : Mimbar Akademik/Kampus/Pikiran Rakyat/Kamis, 20 April 2006)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: