Beranda > Writing in Print Media > Nasib Malang Perpustakaan Karawang

Nasib Malang Perpustakaan Karawang

Oleh : Deni Andriana

Kamis, 19 Oktober pagi, saya membaca sebuah berita di harian Radar Karawang (Raka) yang berjudul “Perpustakaan Daerah Sasaran Pengunjung Ngabuburit”. Dalam berita tersebut, diungkapkan begitu menariknya perpustakaan yang terletak di Jl. Husni Hamid No. 36, depan Gedung PGRI Karawang. Menarik karena dikunjungi masyarakat yang notabene membutuhkan bahan-bahan bacaan sumber informasi pengetahuan.

Ketertarikan saya pada perpustakaan dalam berita Radar Karawang itu kemudian muncul dan mendorong saya pada siang harinya untuk bergegas mengunjungi perpustakaan yang selama ini belum saya kunjungi tersebut, termasuk ketika masih SMU dan semasa sekolah di Karawang, karena sekarang tengah menggeluti kuliah di Bandung, tepatnya di Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba. Dan dimasa liburan menjelang lebaran ini, tentu saya berhasrat mendalami kota Katawang lebih jauh lagi sebagai bekal pasca lulus nanti, terutama mengenai catatan-catatan Karawang tempo dulu yang saya yakini tersimpan dalam buku ataupun koleksi-koleksi di perpustakaan Karawang tersebut.

Tidak sulit bagi saya menemukan letak perpustakaan tersebut, karena selain alamatnya telah tercantum dalam berita Radar Karawang yang telah saya baca pagi harinya, juga karena saya masih orang Karawang yang tahu lokasi-lokasi Karawang. Namun rasa kaget menghentakan saya ketika berada didepan perpustakaan tersebut, dengan lokasi yang tertutup pepohonan dan menjorok ke dalam dari jalan utama Jl. Husni Hamid. Dari luar kesan yang saya tangkap dari perpustakaan tersebut adalah ‘tidak menarik’ dengan bangunan tua yang tampak tidak terurus dan kalah jauh dibandingkan dengan kantor-kantor perangkat Pemda lainnya, dan sangat jauh dibandingkan dengan bangunan-bangunan pertokoan bahkan mall yang kini merajalela di kota perjuangan ini.

Semoga kesan yang saya tangkap dari luar itu tidak sama dengan yang ada didalamnya, harap saya waktu itu. Dan saya pun kemudian memasuki pintu gerbang perpustakaan itu, dan menuju bangunan perpustakaan yang berbentuk ‘L’ tersebut. Dari depan bangunan tersebut tampak kerumunan orang tengah ‘nongkrong’, satu dua diantaranya tampak sibuk dengan kardus dan kertas-kertas. Dari balik kaca saya lihat ternyata perpustakaan begitu sepi, tidak ada pengunjung, padahal hari itu waktu baru menunjukan pukul 13.20 WIB, belum menunjukan pukul 14.00 dimana perpustakaan itu ditutup. Yang lebih mengherankan, ternyata rak-rak di dalam perpustakaan itu pada kosong, tidak ada satupun buku yang terpajang, yang ada adalah tumpukan kardus diatas lantai. Merasa heran dan ingin tahu apa yang terjadi, maka saya beranikan bertanya pada petugas yang berkerumunan di depan pintu perpustakaan tersebut, dan kemudian menanyakan apakah perpustakaan sudah tutup hari ini, dan alangkah kagetnya saya ketika mendapatkan jawaban bahwa perpustakaan ini akan dipindahkan, dan lebih kaget lagi, ketika saya mendapatkan keterangan bahwa para petugas disana tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan dari nasib perpustakaan satu-satunya dalam skala kabupaten Karawang tersebut.

Keterangan demi keterangan pun kemudian saya dapatkan dari orang-orang yang tampak memendam kekecewaan tersebut, dan karena tahu status saya mahasiswa maka mereka pun dengan lantang memberikan keterangan pada saya, dengan harapan mungkin berharap agar saya ikut memperjuangkan nasib perpustakaan tersebut, entah dengan cara apa?

Menurut cerita salah satu sumber saat itu, lokasi atau tanah yang kini ditempati perpustakaan akan dibangun SDN Nagasari yang ada disampingnya, karena SD tersebut telah mendapatkan dana pengembangan dari lembaga donor asing, dan Pemda dengan serta merta melalui perangkatnya menyerahkan lahan tersebut, entah dengan mekanisme dan kompensasi seperti apa. Kemudian nasib dari perpustakaan yang mengoleksi 10.000 judul buku tersebut tidak jelas akan kemana, yang terdekat buku-buku yang telah dipak ke dalam kardus-kardus tersebut sementara akan ditampung di Islamic Center di Mesjid Aljihad Karawang untuk sementara.

Kurang Layak

Untuk skala Kabupaten Karawang sebagai kawasan industri, agrari, nelayan dan potensi-potensi besar lainnya, keberadaan perpustakaan memang sangat dibutuhkan, mengingat laju pertumbuhan dan mobilitas penduduknya yang begitu padat dan cepat memang membutuhkan ruang-ruang alternatif seperti perpustakaan selain lembaga-lembaga pendidikan yang ada sebagai sarana mengasah informasi dan pengetahuan, apalagi perpustakaan dari segi ekonomis lebih meringankan masyarakat, karena tidak dibebani dengan banyak biaya, berbeda dengan ketika harus membeli buku yang harganya relatif mahal. Dan apalagi tidak banyak toko buku yang beroperasi di kota padi tersebut. Adapun toko-toko buku yang ada menurut penilaian saya kurang dalam menyediakan ragam bacaan bagi masyarakat, dan ini berbeda jauh dengan yang saya dapat di Bandung dengan iklim literaturnya yang kuat, dalam konteks ini bukan berarti saya mengharuskan Karawang harus sama dengan Bandung misalnya, tetapi minimal ada ukuran tersendiri sesuai kebutuhan yang ada di masyarakat.

Kemudian posisi dan kapasitas perpustakaan pun harus memadai minimal dalam hitungan jumlah penduduk yang ada, dengan tentunya dihitung dari persentase yang terukur. Kemudian, letak dan pengemasan perpustakaan pun harus dibuat menarik sehingga masyarakat berminat mendatangi perpustakaan tersebut, salah satunya dengan menempatkan perpustakaan dilokasi yang strategis, misalnya dipinggir jalan raya utama supaya diketahui oleh masyarakat umum, ditambah dengan bangunan yang lebih layak, minimal memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.

Yang kini terjadi, perpustakaan yang di bawah pengelolaan kantor kearsipan dan perpustakaan Kabupaten Karawang di bawah Bupati tersebut, sangatlah memprihatinkan, selain lokasinya yang tersembunyi, bentuk bangunan dan sarana yang ada pun pun tidak mendukung kenyamanan pengunjung. Apalagi koleksi buku yang ada hanyalah 10.000 judul yang dalam hitungan era sekarang sangatlah minim. Entah dengan standar apa jumlah tersebut disediakan.

Kalau kita mengaca pada perkembangan negara-negara maju, sumber-sumber bacaan sangatlah diperhatikan, dan bahkan banyak negara dalam sistem pendidikannya mewajibkan agar siswanya membaca puluhan bahkan ratusan buku, dengan tujuan agar siswa atau masyarakatnya cerdas dan memiliki wawasan yang luas. Program tersebut, tidak sepenuhnya diserahkan pada kemampuan atau pun kesadaran masyarakatnya, tapi juga didorong oleh keinginan dan kinerja pemerintahnya yang memang menargetkan agar rakyatnya memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi atau memadai dalam menyongsong era depan dan persaingan global.

Yang lebih menarik jika kita berkaca pada peperangan di zaman kegelapan Eropa dulu, ketika perpustakaan besar di Mesir dibakar, sebagai salah satu cara mengalahkan kekuasaan Mesir oleh musuh-musuh Mesir. Dari contoh itu kita bisa bercermin bahwa begitu pentingnya sebuah perpustakaan dan sumber-sumber bacaan bagi kemajuan suatu bangsa.

Apa yang kini saya temui pada perpustakaan Karawang yang nasibnya dikatakan tidak jelas oleh para petugasnya tersebut sangatlah memilukan. Apakah yang terjadi pada Mesir dulu kini akan terjadi pada Karawang, disaat perpustakaan yang menjadi salah satu tuntutan dari UU di negara ini ditutup tanpa kejelasan akan dipindahkan atau diperbaharui. Dan yang lebih ironis lagi lokasi perpustakaan yang telah ditempati sejak tahun 1998 tersebut kabarnya lebih diprioritaskan pada pengembangan proyek asing yang tidak jelas target dan manfaatnya bagi masyarakat Karawang secara umum.

Menyelamatkan Arsip-Arsip Sejarah Karawang

Selain menyediakan buku-buku yang tentunya harus senantiasa di ‘update’ sesuai dengan kemajuan dan perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan, perpustakaan juga sudah semestinya menyimpan arsip-arsip atau literatur-literatur Karawang dari zaman ke zaman sebagai langkah menyelamatkan peninggalan nenek moyang, bahkan bila perlu sesering mungkin diadakan penelitian dan pengupdetan sejarah Karawang yang tentu saja melibatkan banyak instansi terkait tidak hanya perpustakaan, karena pada dasarnya perpustakaan hanya menampung.

Menurut keterangan dari sumber di perpustakaan Karawang, telah banyak arsip atau buku-buku yang memuat sejarah Karawang yang telah lenyap, baik karena tidak terawat maupun hilang, dan ini sangat mengerikan karena dipastikan generasi Karawang kedepan akan kehilangan khususnya akan kehilangan jejak leluhurnya dan sejarah kota kelahirannya sendiri. Karena umumnya, sebagian besar sejarah masih disampaikan dari mulut ke mulut oleh orang tua, dan jika tetap bertahan pada tradisi lisan ini, maka resiko besarnya kita akan kehilangan sumber-sumber data dan sejarah jika tidak ada lagi yang bisa menceritakan.

“Siapa yang tahu dengan lengkap, kenapa ada istilah goyang Karawang?” Pertanyaan ini sudah seharusnya dijawab oleh orang Karawang, karena secara jujur kita harus akui bahwa diluar, Karawang lebih dikenal karena goyangannya, bukan karena lahan produk pertaniannya yang sebenarnya lebih kita banggakan. Ada banyak versi mengenai asal usul goyang Karawang, dan versi-versi tersebut memiliki perbedaan yang mencolok, hal ini menimbulkan pertanyaan tersendiri, apakah karena karangan belaka atau memang ada interprestasi yang berbeda. Yang pasti, arsip tertulis yang berdasarkan penelitian dan riset yang berdasarkan fakta harus ada, sebagai panduan utama untuk menyelamatkan sejarah dan peninggalan terdahulu atau bahkan para pendiri kota Karawang ini.

Harus Tetap Ada

Pada dasarnya, sampai tulisan ini saya buat sebagai salah satu bentuk kekecewaan saya karena melihat nasib perpustakaan Karawang, saya belum mendapatkan kejelasan tentang proyeksi ataupun langkah pemerintah Karawang terhadap perpustakaan tersebut. Yang pasti, dengan banyak pertimbangan yang diantaranya telah saya kemukakan diatas, maka perpustakaan harus tetap ada di kabupaten Karawang. Atau kita akan kehilangan banyak hal, seperti hilangnya sumber-sumber pengetahuan dan sejarah atau bahkan hilangnya kesempatan bagi masyarakt untuk mengakses kebutuhannya akan sumber bacaan yang praktis dan ekonomis.

Terlepas ada agenda lain yang diprioritaskan, pemerintah Karawang saat ini yang dinilai ‘katanya’ berpihak kepada rakyat ini harus lebih memperhatikan sektor pendidikan karena perpustakaan salah satu perangkan dalam pendidikan itu sendiri. Dan kedepannya, Karawang harus memiliki perpustakaan yang lebih banyak lagi, misalnya ke pelosok pedesaan. Memang, kini ada yang namanya perpustakaan keliling yang beroperasi disetiap kecamatan, namun itu adalah salah satu program provinsi atau gubernur dan akses serta pelayanannya masih jauh dari standar. Yang harusnya lebih berperan dalam hal ini adalah Pemda Karawang sendiri, melalui perangkat-perangkatnya.

(Dimuat di Radar Karawang – Selasa, 31 Oktober 2006 – Rabu, 1 November 2006)

Catatan : Sekarang Perpustakaan Karawang sudah memiliki tempat yang lebih layak, yakni di areal Mesjid Al-Jihad Karawang.

Iklan
  1. Oktober 26, 2011 pukul 12:57 pm

    Keren gan,ane dari dulu nyari muter2 krawang,hehe thanks infonya ^_^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: