Beranda > Writing in Print Media > Jauhi Perilaku Penyebab HIV/AIDS

Jauhi Perilaku Penyebab HIV/AIDS

Oleh : Deni Andriana

“HARAPAN saya, masalah HIV/AIDS bisa ditekan seminimal mungkin dan diharapkan penyakit itu stop sampai di kita saja, tidak menular ke yang lain. Kalau misalkan bagi teman-teman yang sudah mengetahui status HIV-nya, apabila perilakunya masih berisiko, masih menggunakan narkoba, ya tolong jarum suntiknya itu steril. Kalau misalkan bagi teman-teman lajang yang sudah membutuhkan seksual, apabila melakukan aktivitas seks, ya menggunakan kondom. Terlebih-lebih apabila sudah berkeluarga, dengan istri itu harus menggunakan kondom”.

Pesan itu disampaikan Agum (nama samaran) kepada penulis, ketika ditanya harapan ke depan menjelang peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh pada 1 Desember ini. Agum, adalah salah seorang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang ada di Kabupaten Karawang. Latar belakang dia terkena HIV, adalah karena penggunaan jarum suntik narkoba putaw dengan media suntik. Perilaku ini ia mulai di masa kuliah sekira tahun 1998. Baru pada tahun 2005, ia mengetahui bahwa dirinya ternyata positif terkena HIV.

Kampanye-kampanye pencegahan HIV/AIDS melalui iklan layanan masyarakat, nyaris tidak berpengaruh. Menurut pengalaman Agum, ketika tengah aktif-aktifnya menggunakan jarum suntik narkoba, mengakui memang tahu bahwa menggunakan jarum suntik secara bergantian memang berbahaya, seperti yang ia saksikan di pamflet, poster, ataupun spanduk kampanye pencegahan HIV/AIDS. Akan tetapi, karena tuntutan “ketagihan” yang tak terbendung, ia tetap menjalani perilaku berisiko tersebut. Apalagi mendapatkan jarum suntik yang steril pada waktu itu, menurutnya bukanlah hal yang mudah. Selain hanya ada di apotek yang kadang-kadang mendapatkannya sulit, ditambah lagi dengan ketakutannya keluar masuk apotek yang bisa saja dicurigai aparat.

Lalu, ketika ditanya faktor apa yang mengakibatkan ia terjemus, Agum mengatakan, faktor keluarga dan lingkungan yang tidak baik bisa menjerumuskan seseorang kelingkaran narkoba dan lantas terjerumus ke jurang HIV AIDS.

**

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyebabkan AIDS. HIV ini merusak sistem kekebalan tubuh manusia karena merusak sel darah putih (sel T/T Helper/sel CD4). Secara rinci, H=human, berarti virus hanya dapat menginfeksi manusia. I=immuno-deficiency, yakni membuat tubuh manusia turun sistem kekebalannya, sehingga tubuh gagal melawan infeksi dan V (virus, karakteristiknya mereproduksi diri sendiri di dalam sel manusia. HIV sendiri terdapat dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi seperti di dalam darah, sperma, atau cairan vagina (dan pernah dilaporkan berhasil diisolasi dalam: air liur, air susu ibu, air mata, dan cairan-cairan lainnya).

Sedangkan AIDS (Acquired Immunodefiency Syndrome) adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh virus HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang didapat sehingga tubuh menjadi rawan terhadap serangan penyakit.
Dalam cara penularannya, HIV tidak lewat kontak sosial, seperti mengobrol, makan bersama, berenang, ataupun bersentuhan, bersalaman, cium pipi, dll. Penyakit itu menular melalui hubungan seksual (pria dengan pria, pria dengan wanita), Ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya atau ibu yang menyusui anaknya melalui ASI, Jarum suntik, jarum tindik, jarum tato bekas pakai yang tidak disterilkan terlebih dahulu dan transfusi darah.

Mengenai jumlah ODHA, menurut data WHO terdapat sekira 40 juta ODHA yang tersebar di dunia. Sedangkan, menurut laporan yang berhasil dihimpun Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Departemen Kesehatan RI, secara kumulatif sampai 30 September 2006 pengidap infeksi HIV positif sebanyak 4.617 dan AIDS sebanyak 6.987. Secara nasional, kasus kumulatif AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta (2.394 kasus), Jawa Timur (820 kasus), Papua (814 kasus), Jawa Barat (781 kasus), Bali (307 kasus), Kalimantan Barat (228 kasus), Sumatra Utara (192 kasus), Kepulauan Riau (185 kasus), Jawa Tengah (175 kasus), dan Sulawesi Selatan (143 kasus).

Jika mengaca pada cara penyebaran AIDS yang cenderung cepat, diperkirakan angka yang ada setiap tahunnya berkelipatan 10 kali. Perhitungan ini berdasarkan perilaku dari para ODHA sendiri yang umumnya belum mengetahui dirinya terkena HIV, ia akan menularkan penyakit itu pada setiap pasangan yang digaulinya baik itu melalui hubungan seks maupun jarum suntik narkoba.

Mengenai obat, ada yang namanya ARV (Antiretroviral). Adapun fungsi dari ARV sendiri, bukan untuk menyembuhkan HIV, tetapi untuk mencegah pengembangbiakan HIV di tubuh ODHA dan meningkatkan kekebalan tubuh serta risiko penularan. Lalu, secara klinis menurunkan risiko kematian dan infeksi oportunistik.

Obat jenis ARV ini secara tidak langsung membuat virus HIV “mati suri” selama pengobatan. Artinya, kemudian virus ini dapat mengganas lagi jika ODHA kembali melakukan perilaku berisiko ataupun berhenti menggunakan ARV. Jelasnya, ARV adalah obat seumur hidup.

**

CARA pencegahan HIV yang paling efektif adalah penanganan para ODHA agar menghentikan perilaku berisikonya, ataupun jika tetap melakukan aktivitasnya seperti menggunakan narkoba suntik maupun seks, agar menggunakannya secara steril atau melalui alat pengaman. Hal yang lebih penting, adalah sikap waspada sejak dini dari masing-masing kita untuk menghindarinya sebelum terkena dan untuk yang merasa telah melakukan perilaku berisiko seperti sering ”jajan” seks ataupun narkoba mulai memeriksakan diri, dan untuk di Indonesia sendiri sampai saat ini HIV/AIDS hanya bisa di indentifikasi melalui tes darah.

Fenomena HIV adalah bagaikan fenomena gunung es. Penampilan yang ada di permukaan, tidaklah menggambarkan kondisi yang sebenarnya, karena lazimnya gunung es, di bawah permukaannya memiliki tumpukan yang lebih besar. Artinya, yang kini kita ketahui jumlah kasusnya tidaklah seberapa dibandingkan dengan yang masih belum diketemukan.

Untuk itulah, mari kita perangi HIV AIDS dimulai dari diri kita sendiri, dengan hindari seks bebas tanpa pengaman dan jauhi penggunaan narkoba terlebih dengan medium suntik, dan jangan jauhi teman-teman ODHA, karena mereka bukan untuk kita jauhi tapi untuk kita support. Mengulang kembali harapan Agum, “Harapan saya, masalah HIV AIDS bisa ditekan seminimal mungkin, dan diharapkan HIV AIDS stop sampai di kita saja, tidak menular ke yang lain”. Safety your self!***

(Dimuat dalam Suplemen Kampus H. U Pikiran Rakyat / Kamis, 30 November 2006)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: