Beranda > opinion > Berita : Antara Fakta dan Kepentingan

Berita : Antara Fakta dan Kepentingan

Oleh : Deni Andriana

Setiap media massa memiliki karakter dan latar belakang tersendiri, baik dalam isi dan pengemasan beritanya, maupun dalam tampilan serta tujuan dasarnya. Namun yang pasti, semua media tetap memiliki backround yang sama, yaitu menyebarkan informasi terlepas dari itu dalam bentuk berita, gossip, ramalan, iklan maupun artikel. Yang pasti, setiap hal itu tentunya mengandung sisi informatif yang dapat dikonsumsi publik.

Berita adalah bagian yang tidak terlepaskan dari adanya media massa itu sendiri, secara normatif atau katakanlah secara teoritis, berita adalah suatu pemberitahuan atau cerita yang tepat tentang suatu pikiran atau kenyataan yang menarik perhatian pembaca (M. Lyle Spencer ; 1917). Sedangkan, menurut Mochtar Lubis, berita adalah laporan tentang kejadian yang menarik perhatian umum.

Berita harus berisikan informasi yang faktual

Ada sebuah istilah yang menyatakan : “Berita harus berdasarkan fakta dan tidak semua fakta adalah berita.” Dari ungkapan tersebut nyata bahwa berita itu haruslah bertitik tolak dari sebuah fakta, karena sebagai konsumsi publik, berita tentunya akan menimbulkan pengaruh terhadap para pembacanya dan pengaruh atau effect bagi pembaca itu haruslah tetap dijaga dan di bawa dari sebuah hal yang benar-benar nyata, bukan desas-desus maupun perkiraan semata baik dari penulis berita itu sendiri, maupun redaksi media yang bersangkutan. Pada intinya, berita merupakan penyampaian fakta kepada khalayak, dimana fakta tersebut memang layak dan mesti diketahui khalayak luas.

Yang terjadi di lapangan, menurut pengamatan penulis, seringkali ditemui adanya kesimpang siuran fakta, dimana disebuah berita dikatakan A, namun disisi lain ada fakta yang menyatakan B. Dan, mau tidak mau karena berita itu telah disebarkan, maka opini pembaca khususnya yang berada jauh dari sumber fakta akan mengatakan A. bukan B yang sebenarnya menjadi fakta yang sesungguhnya.

Seringkali juga, kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja dalam sebuah pemberitaan tidak mendapatkan ralat dari pihak media dan redaksi yang bersangkutan. Kesalahan itu kemudian menjadi kebohongan publik yang tidak terbantahkan dan lalu menjadi kebenaran yang tidak sejati, maksudnya tidak sesuai dengan realita.

Menurut anggapan kawan di media, mekanisme peralatan atas berita yang salah itu, baik itu salah dalam kemasan kalimat, penggunaan ejaan maupun kesalahan pada fakta yang disampaikan memang menjadi ketentuan yang harus dituruti dan ini memang telah di lakukan oleh sejumlah media. Namun, dalam konteks ini pula temuan peralatan ini tidaklah terlalu sering walaupun pada dasarnya kesalahan yang dimaksud itu sering kali terjadi. Karena, mau tidak mau juga dengan semakin banyaknya sebuah media melakukan peralatan terhadap pemberitaannya, akan berdampak pada penurunan citra media itu sendiri dimata publik pembacanya, di cap tidak teliti-lah, tidak akurat-lah dan ini yang tentunya dihindari oleh sejumlah media yang tidak ingin kehilangan pasar pembacanya.

Berita juga dapat menjadi alat kekuasaan

Banyak yang menganggap bahwa naiknya isu Ambalat beberapa waktu yang lalu, disinyalir sebagai upaya untuk mengalihkan isu kenaikan BBM yang nyatanya lebih dulu menghangat ditengah masyarakat. Dan banyak pula yang menyayangkan, kalau akhirnya isu Ambalat itu telah mengurangi perhatian masyarakat yang tadinya banyak menyikapi tentang kenaikan BBM.

Kemudian, ada kesimpulan bahwa pemerintah telah menukangi sikap media untuk meminimalisir pemberitaan mengenai BBM, dengan memperbanyak pemberitaan mengenai Ambalat dan isu perbatasan. Dan perkiraan itu di perbuas, ketika banyak bermunculannya simpatisan yang menyatakan siap berperang demi kedaulatan NKRI, banyak dibuka posko-posko untuk berjihad melawan Malaysia dan tidak sedikit pula terjadi demonstrasi mahasiswa dan lembaga masyarakat terkait isu Ambalat itu. Dari mana lagi pengaruh yang membentuk sikap masyarakat dan elemen pergerakan itu muncul, bila bukan dari pemberitaan dimedia?!

Kalau saja masalah Ambalat kemarin tidak diberitakan oleh media, sangat tidak mungkin adanya banyak persepsi yang muncul di masyarakat, keadaannya mungkin terbalik dengan permasalahan kenaikan BBM yang mau tidak mau memang dirasakan langsung oleh masyarakat terlepas dari ada dan tidaknya pemberitaan di media.

Dari dua contoh peristiwa di atas, nyata bahwa sebuah berita itu memiliki nilai pengaruh yang kuat, baik itu dalam membentuk opini masyarakat maupun untuk menjalankan kepentingan pihak tertentu yang lazimnya memiliki pengaruh pada media yang bersangkutan. Dengan adanya berita, maka ada masalah yang muncul di masyarakat.

Kenyataannya berita itu bukan hanya menginformasikan sebuah masalah, tapi berita pula dapat menciptakan suatu masalah, seperti kasus Ambalat dimana sebuah bentukan isu dikonstruk sedemikian rupa menjadi sebuah masalah besar dan akhirnya menjadi masalah nasional yang mempengaruhi masyarakat luas.

Ketika berita itu memiliki nilai pengaruh yang kuat dimasyarakat, maka bukan hanya berita itu yang memang kuat, karena ada beberapa faktor lain yang juga ikut mempengaruhi, seperti kepentingan media dan pihak lain dibalik berita tersebut, selain itu sisi subjektifitas wartawan dan penulis berita juga akhirnya ikut menentukan kualitas sebuah berita. Dan, maka tidak salah kalau pemberitaan di satu media akan berbeda dengan media lainnya, walaupun keduanya membahas satu topik permasalahan yang sama, seperti halnya dalam pengangkatan isu Ambalat maupun kenaikan BBM beberapa waktu yang lalu.

Tentunya, fakta dan kepentingan adalah bagian yang tidak terlepaskan dari sebuah berita. Fakta sudah jelas harus ada, dan kepentingan adalah bagian dari hadirnya berita itu sendiri, dan telepas dari itu kepentingan penguasa maupun kepentingan apa yang dibawa oleh media yang bersangkutan, kepentingan yang harus diperhatikan adalah bahwa pembaca yang notabene akan terpengaruh baik secara langsung maupun tidak oleh isi berita yang disampaikan haruslah tetap di utamakan, terutama kepentingan pembaca yaitu mendapatkan informasi yang akurat, mendidik dan tentunya sehat dari kepentingan pihak tertentu.

Iklan
Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: