Beranda > babble > Atas Nama Mereka!!

Atas Nama Mereka!!

Keberadaan pengemis, pemulung, bahkan orang gila adalah ladang berharga bagi sebagian orang yang ada disekitarnya. Banyak nilai positif yang dapat di ambil dari kehidupan mereka, selain tentunya disatu sisi memiliki hal-hal negatif yang kenegatifannya hanya dapat diukur melalui perasangka, satu arah yang berujung kepada sikap maen hakim sendiri, istilah lainnya “memandang sebelah mata.”

Pengemis, pemulung, gembel maupun orang gila adalah bagian yang tak terlepaskan dari kehidupan bermasyarakat, karena faktor ekonomi, psikologis maupun aturan yang tidak berpihak adalah bagian terbesar dari penyebab kenapa jumlahnya kian hari kian banyak. Terlalu naïf jika kiranya kita hanya mengalaskan bahwa nasiblah yang menentukan garis kehidupan mereka.

Siapa yang ikut menertibkan sampah yang berserakan dijalanan? Jawabannya ada pada pemulung. Siapa yang mendorong orang untuk berbagi dan berbuat amal, jawabannya adalah pengemis. Lalu, siapa yang menghabiskan sisa-sisa makanan yang berserakan, atau puntung rokok, orang gila-lah yang membersihkannya. Selain itu, baik pemulung, pengemis maupun orang gila, ternyata seperti yang dibahas pada awal tulisan ini, adalah dapat menjadi lahan berharga bagi mereka yang memang dapat memamfaatkannya, salah satunya adalah sebagai objek penelitian dan bahan pemberitaan.

Human Interest (sisi kemanusiaan) menjadi landasan yang ideal bagi sebagian orang yang mencoba meraih keuntungan dari keberadan pengemis, pemulung dan orang gila. Mulai dari wartawan dengan latar pemberitaannya, mahasiswa dengan tugas kuliahnya, fotografer dengan objek fotonya, partai politik dan calon pejabat dengan janji-janjinya sampai kepada sastrawan dan seniman dengan karya-karyanya adalah yang diuntungkan dengan keberadaan mereka. Dengan mencantumkan atau memasukan mereka kedalam karya atau agendanya, seringkali kesuksesan diraih dengan bangganya, lalu banyak pula kemudian predikat yang muncul, dari mulai wartawan atau media rakyat kecil, foto-foto human interest, sampai kepada lukisan ataupun karya sastra kemanusiaan. Dan bisa jadi, tulisan ini pun adalah bagian dari pada semua itu!?

“Anda beruntung, setelah mengangkat kami, anda akan mendapatkan nilai yang bagus dari dosen anda!” Ujar seorang pemulung beberapa waktu yang lalu ketika sebuah tugas kuliah menuntut untuk saya bertemu dengannya.

“Kalau anda dapat nilai lalu kami dapat apa?” Lanjutnya dengan mimik penuh harap.

“Sejak dulu, banyak yang wawancara dan mau mengangkat kami, bukan hanya mahasiswa, wartawan juga banyak! Tapi, hidup kami toh tetap kayak gini, tidak ada perubahan setelah kalian angkat!” Tegasnya mengakhiri pertemuan kala itu.

Lantas, apa yang kemudian dapat disimpulkan dari perkataan sang pengemis itu? Apakah ia hanya terbawa emosi atau memang ada nilai yang patut direnungkan dari sikap dan ungkapannya itu?

Lalu ada kisah lain yang berhasil saya rekam, ternyata agenda Konferensi Asia Afrika (KAA) kemarin yang mencantumkan orang miskin sebagai salah satu objek bahasannya “Mengentaskan kemiskinan”, tidaklah begitu dirasakan oleh mereka yang hidup di jalanan (mereka juga adalah bagian dari orang miskin yang dimaksud kan?), seperti para penghuni rumah kardus yang ditertibkan karena dinilai merusak nilai dan estetika keindahan kota.

“Kota ini mau dikunjungi kepala negara! Jadi kalian harus berkemas dari sini!”

Banyak rumah kardus yang di tertibkan, begitu pula dengan para pedagang kaki lima. Padahal, merekalah sebenarnya yang menjadi objek pembahasan dari KAA itu sendiri, lantas siapa yang bodoh dan tidak beretika?

“Apa itu KAA, tolong jelaskan? Saya sering dengar tapi tidak tahu apa artinya?” Ujar penghuni rumah kardus di Jalan Tera Bandung dengan polosnya.

Kemudian lagi-lagi muncul pertanyaan, apakah penghuni rumah kardus tersebut bodoh, atau ia telah dibodohi?

Dalam pemberitaan dan tayangan di media, baik cetak maupun elektronik seringkali keberadaan pengemis, pemulung sampai orang gila menjadi objek bahasan, (kalau tidak menjadi narasumber, ya jadi bahan kajian suatu masalah, semisal masalah ekonomi suatu negara dsb). Bahkan, yang kini semakin populer adalah tayangan reality show yang menampilkan sosok orang miskin (termasuk pengemis dkk) di dalamnya sebagai objek yang katanya memang dapat menarik emosi penonton dengan berbagai sentuhan serta adegan-adegan ala televisi yang tentunya memiliki kelebihan dari segi visual maupun konsep acara.

Eksploitasi, mungkin kata itu terlalu kasar untuk mengkategorikan sikap dan sifat memamfaatkan keberadaan pengemis, pemulung dkk-nya itu. Karena, kalau dikaji lebih dalam lagi, dengan diangkatnya mereka kedalam sebuah karya sastra, foto, berita dsb itu memang memiliki nilai positif juga pada akhirnya, paling tidak dengan diangkatnya mereka, ada sebuah harapan bahwa nasib dan garis kehidupan mereka akan berubah seiring dengan kesadaran ataupun kebertanggung jawaban orang maupun pihak yang menyaksikan kehidupan mereka melalui buah karya tersebut.

“Berubah atau tidak, itu tergantung pada merekanya sendiri!” Kata itulah yang keluar dari mulut seorang teman ketika ia mengomentari perkataan pemulung diatas.

“Kita kan hanya membantunya untuk lebih diperhatikan, siapa tahu dengan kita angkat, nantinya permasalahan mereka akan lebih dipahami oleh publik, dan kemudian setelah itu mungkin saja akan ada yang menaruh rasa empati, bertindak, bahkan yang hanya tersenyum menyaksikannya.” Sambungnya kemudian.

Beda lagi dengan pendapat dosen saya : “Semuanya kembali kepada niat, kalau niatnya mengeksploitasi ya salah! Biasanya itu akan tercermin lewat karyanya itu sendiri…”

Asas mampaat, kiranya jargon itu yang layak di sematkan atas hubungan pengemis dkk dengan wartawan, seniman dkk tersebut. Dimana, ada hubungan timbal balik diantara keduanya, walaupun pada prakteknya memang banyak yang menjurus kepada praktek peng-eksploitasian semata.

Kalau tidak diangkat – ya tidak apa-apa. Kalau di angkat – sebenarnya tidak ada masalah juga! Jadi, hubungan atau korelasi antara asas mamfaat dan pengeksploitasian itu pada dasarnya adalah kembali kepada sisi sosial dimana memang sudah selayaknya adanya kesadaran antara dua belah pihak, dimana seniman, penulis, wartawan dkk harus lebih real dalam mengangkat kehidupan mereka, dalam artian berdasarkan realita yang ada tanpa banyak memanipulasi data yang ada dilapangan sehingga mereka pun merasa nyaman, sedangkan mereka (pengemis dkk) juga harus memandang positif bahwa bukan eksploitasi yang menjadi tema pengangkatan kehidupan mereka, tapi asas mampaat yang menjadi jargonnya.

Iklan
Kategori:babble
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: