Beranda > opinion > Setting Budaya dalam Sinetron

Setting Budaya dalam Sinetron

Oleh : Deni Andriana

Satu bulan terakhir ini televisi menjadi perhatian saya, terutama tayangan sinetron yang mengisi waktu istrirahat, terutama yang tayang pada malam hari. Dari sinetron yang menangkan cerita orang dewasa, remaja, sampai anak-anak. Dari latar sekolah dasar, SMA sampai perguruan tinggi. Namun yang menarik perhatian saya adalah sinetron dengan latar SMA, dimana secara persentase memang cukup besar.

Banyak hal saya dapatkan selepas menonton sinetron ini diantaranya rasa bahagia juga rasa sedih. Ya, dua perasaan itu yang kemudian hadir. Bahagia karena menyadari bahwa begitu pesatnya dunia perfilman dengan kategori sinetron yang membuktikan produktivitas seniman film kita yang maju, tapi sedih karena produktivitas itu tidak mencerminkan kemajuan dalam segi kualitas. Artinya kuantitas yang ada tidak diimbangi kualitas yang OK.

Jakarta sebagai Latar

Coba kita perhatikan, latar atau lokasi dalam sinetron khususnya yang mengangkat cerita anak SMA, Jakarta mendominasi latar hampir semua sinetron kalau tidak dibilang semuanya. Kenapa? Kalau kita kaji lebih dalam tentu hal ini dilatarbelakangi oleh banyak hal, diantaranya dari segi ongkos produksi tentu lebih murah, karena memang kebanyakan PH (production House) yang memproduksi sinetron ataupun stasiun televisi yang menayangkan sinetron tersebut memang tersentral di Jakarta, tanpa harus repot-repot mencari kota atau lokasi lain tentu ini menghemat anggaran. Alasan kedua, karena memang ini terkait juga dengan para pemain sinetron sendiri yang kebanyakan masih sekolah dan kebanyakan berdomisili di Jakarta sehingga hal ini membuat mereka tidak harus meninggalkan aktivitas belajarnya disekolah, walaupun dengan jadwal yang padat dalam sinetron kejar tayang, mereka toh tidak mengorbankan sekolahnya, ini bisa disimak dari ’laporan’ tayangan infotaiment. Secara industri Jakarta adalah latar yang aman.

Bagaimana secara kualitas? Sebuah kualitas tentu memiliki ukuran yang tidak baku, apalagi jika dikaitkan dengan sisi subjektivitas yang kembali pada para penonton sendiri. Namun tentu ada acuan yang bisa dirata-ratakan, seperti effek. Bagaimana effek sinetron terhadap para penontonnnya. Adapaun pihak televisi mengedepankan ratting sebagai acuannya, namun ratting ini tentunya harus dipertanyakan keabsahannya, karena mau tidak mau kebanyakn bertujuan pasar dan tidak menutup kemungkinan terjadinya rekayasa.

Pemusatan setting sinetron ini yang kemudian membentuk sebuah trend bahwa apapun yang ada di Jakarta, bahasa yang digunakan, pola hidup dsb adalah yang terbaik, Indonesia adalah Jakarta dan yang ’berbau’ Jakarta adalah yang gaul.

Nah, apakah kemudian kita akan lupa bahwa negara ini penuh dengan keragaman sebagai sebuah keunggulan? Apakah kita harus berbau ’Jakarta’ dulu untuk menjadi PD?

Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: