Beranda > opinion > Generasi Moeda

Generasi Moeda

“Aku bukan pion-pion catur; Aku nggak suka diatur-atur; Jangan coba menghalangi aku; Karna aku generasi biru …………. Biarkan ku teriak lantang; Untuk apa sumbat mulutku; Aku ingin bernyanyi keras; Ini lagu generasi biru;”

Rangkaian kalimat diatas adalah penggalan dari lirik lagu Slank berjudul Generasi Biroe. Lagu ini adalah bentuk kemarahan Slank terhadap segala bentuk pengekangan, terutama oleh para penguasa dengan segala aturan dan doktrinnya.

Bergulirnya reformasi menjadi gerbang bagi segala bentuk karya dan ekspresi muncul tanpa dikiaskan ataupun dikemas sedemikian rupa untuk mengelabui sensor. Kebebasan bersuara, berpendapat dan berkarya, itulah jargon bagi generasi reformasi. Yang akhirnya hanya dibatasi pada sebuah norma yang berkaitan dengan moral.. selama tidak mengandung sara maka dibebaskan.

Generasi muda, yang juga berperan besar terhadap gagasan reformasi di negeri ini melalui gerakan heroik mahasiswa era 98 menjadi nilai yang telah mengakar hingga kini. Ketika kaum muda berontak, ketika kaum muda marah dan kaum muda bersatu maka kaum mudalah yang menang.

Sumpah pemoeda 28 oktober 1928 adalah momentum kebangkitan kaum muda Indonesia. Yang sebelumnya dipelopori Boedi Oetomo. Sejarah membuktikan, bahwa kaum moeda menjadi pelaku perubahan dinegeri ini, tidak terkecuali pada kancah politik dan pembangunan.

Effek Globalisasi

Arus globalisasi yang membuka peluang kapitalisme berkembang dengan membawa misinya untuk mengubah dunia sesuai dengan skenarionya menjadi ancaman bagi kelangsungan peradaban disetiap negara, tidak terkecuali Indonesia yang pada hakekatnya belum siap secara utuh menghadapi globalisasi. Akibatnya, dengan instans masyarakat menerima invasi-invasi luar yang begitu gencarnya mempengaruhi, baik melalui televisi, media cetak maupun perangkat-perangkat kehidupan lainnya, termasuk gaya hidup dan budaya.

Gaya hidup konsumerisme, dimana masyarakat sudah terjebak pada situasi global dimana ’gaya’ lebih penting daripada kebutuhan mengakibatkan banyak dampak negatif dalam pembentukan karakter masyarakat. Tidak peduli pada nilai yang dihasilkan, yang penting mampu mengejar trend yang tengah berkembang, yang sesunggunya diciptakan oleh sebuah produsen bernama kapitalisme.

Dari mulai pakaian, kendaraan, tempat tinggal sampai makanan, semuanya harus mengikuti trend. Orang akan lebih bangga memakai pakaian produk luar daripada produk dalam negeri, walaupun sebenarnya tidak sesuai. Ambil contoh misalnya, pakaian dengan model terbuka ala barat yang digemari, jika dianalisis, ternyata pakaian itu tidaklah cocok untuk dikenakan masyarakat kita dengan cuaca yang panas, berbeda dengan wilayah dimana jenis pakaian tersebut dirancang, misalnya di Eropa dengan cuaca yang hangat. Bukannya gaya, yang terjadi adalah kulit malah terkena iritasi sinar matahari.

Kesalahan pola konsumsi ini juga terjadi pada makanan, dimana orang akan lebih merasa keren ketika memakan pizza ataupun hamburger daripada martabak ataupun penganan asli Indonesia yang jelas dari sisi kesehatan lebih terjamin, bahkan lebih murah. Karena, menurut riset kesehatan, makanan jenis fast food, seperti hamburger misalnya, mengandung Escherichia coli 0157:H7, patogen makanan berbahaya yang berpotensi mematikan. Studi-studi paling akhir menemukan bahwa patogen – patogen yang dikandung dalam makanan bisa menimbulkan penyakit jangka panjang, seperti sakit jantung, panas perut, masalah neurologist, kacaunya sistem kekebalan tubuh dan kerusakan ginjal serta berpotensi menimbulkan obesitas (kegemukan).

Kasus-kasus tersebut merupakan akibat dari belum siapnya masyarakat kita menghadapi globalisasi disegala bidang. Dan yang lebih banyak menjadi korban adalah generasi muda, terutama yang tengah dalam fase pertumbuhan, baik mental, pergaulan dan pendidikan. Hal ini wajar, mengingat pengaruh-pengaruh dari invasi luar telah masuk keberbagai ruang, dari ruang umum sampai ruang privasi, seperti lingkungan keluarga, melalui TV ataupun pendidikan orang tua, alhasil sejak kecil seseorang sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak biasa.

Usia remaja, antara 15 – 30 tahun, adalah usia pencarian, memiliki sifat yang senang mencoba-coba, dan bahayanya jika yang dicoba adalah hal yang negatif.

Identitas Bangsa

Bangsa yang maju adalah bangsa yang mengenal dirinya sendiri dan bangsa yang percaya diri sebagai sebuah bangsa.

Solusi untuk mencounter globalisasi dan muatan-muatannya adalah dengan menanamkan sejak dini kepada generasi muda akan nilai-nilai luhur bangsa ini, baik dalam lingkup budaya, ekonomi dan sebagainya, karena dengan ini maka akan tercipta generasi yang memiliki karakter yang kuat sebagai sebuah bangsa. Wilayah penguatan ini yang sangat potensial adalah dilakukan dilingkungan pendidikan, terutama dimulai dari tingkat SD sampai SMA, untuk kategori formal, dan dilakukan didalam keluarga sedari dini dalam ruang pendidikan non formal.

Kebebasan yang dimaksud dalam kerangka reformasi seperti dibahas diawal tulisan ini, tidak harus dimaknai sebagai sebuah sikap destruktif, menghancurkan hal-hal yang arif (kearifan ’budaya’), namun lebih kepada sudut pandang, dimana disatu sisi anak muda dikenalkan pada sebuah kebudayaan asalnya, namun disisi lain Ia harus diberi kebebasan untuk mengkritisi (tidak menerima mentah-mentah) kebudayaan tersebut, dengan sikap konstruktif tersebut niscaya akan terjadi pencerdasan bagi generasi muda dalam memperkuat jati dirinya sebagai anak bangsa. Bangsa yang cerdas, yang tidak masuk dalam lubang hitam globalisasi yang tidak dikenalnya.

Iklan
Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: