Beranda > opinion > Manusia, Kebudayaan dan Alam

Manusia, Kebudayaan dan Alam

Apa kaitannya antara manusia, kebudayaan dan alam?
Apakah benar masing-masing berdiri sendiri?
Atau memang saling terkait?
Lantas seperti apa?

Manusia, adalah hewan yang berpikir, karena berpikir itulah manusia mencipta, menghasilkan kebudayaan yang merupakan hasil interaksinya dengan alam.

Manusia pra modern, terkait erat dengan alam secara harfiah, menciptakan budaya bercocok tanam sesuai dengan kondisi alam, manusia tergantung sama alam, manusia menyesuaikan dengan alam, percaya bahwa alam ’memberi’ dan manusia ’menerima’, apa yang disediakan oleh alam adalah karunia dari-Nya. Maka dari itu, karunia itu harus dijaga, supaya tetap menjadi karunia yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Manusia modern, menentang secara ekstrem mitos-mitos dengan mengusung flatform rasionalisme. Manusia tidak harus selalu tergantung dengan alam, karena berpikir maka manusia harus bisa menaklukan alam, bahwa alamlah yang kemudian menyesuaikan dengan kebutuhan bahkan kepentingan manusia di dunia ini, manusia yang memberi dan alam yang menerima.

Global warning, sebagai isu yang kembali hangat diperbincangkan dewasa ini adalah buah nyata dari adanya ketimpangan antara tiga unsur yakni manusia, budaya dan alam. Buah dari kesadaran atau bahkan lebih tepatnya kesadaran yang tidak terkendali, yang menempatkan manusia sebagai pihak yang paling berkuasa diatas bumi ini dengan rasionalitasnya. Pembangunan yang membabi buta, melabrak lahan-lahan hijau, teknologi yang bernuansa bisnis semata, memberantakan ekosistem, dan tentunya ilmu yang positivistik membuat ruang-ruang sosial termarginalkan oleh kekuasaan dan keserakahan kelompok.

Apa sudah terlambat untuk menyadari dan memperbaiki hubungan kita (manusia) dengan alam lewat budaya-budaya yang kita ciptakan? Secara hitungan waktu kita sudah terlambat, alam sudah rusak, kutub utara sudah terancam, peremajaan alam sudah menampakan gejalanya, gempa bumi, banjir, sirklus udara bahkan atmosfer diatas sana sudah tidak perawan. Yang bisa dilakukan adalah memperlambatnya, sambil berusaha untuk mengharmoniskan kembali hubungan, menghentikan praktek-praktek keangkuhan kita terhadap alam, karena alam memerlukan keseimbangan. Kita harus menyadari bahwa ia (alam) juga hidup, artinya yang namanya hidup maka memiliki ’rasa’ – rasa sakit, marah dan senang. Dan sekarang pilihan ada pada kita, apakah kita akan membuat alam itu semakin sakit hingga ia kemudian akan marah, atau sebaliknya kita akan membuat alam itu senang hingga ia pun akan menyenangkan kita? Bukan kita yang memberi, bukan pula harus selalu alam yang memberi, tapi alam dan kita (manusia) harus saling memberi, untuk kemudian menerima akibatnya.

Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: