Beranda > babble > Budayakan Kembali Bersepeda

Budayakan Kembali Bersepeda

Berapa sepeda motor dan mobil anda sekarang?

Pertanyaan itu, di era sekarang akan dijawab dengan antusias.. satu..dua.. sepuluh.

Kedua jenis kendaraan ini bisa dibeli dengan cara yang lebih mudah dari pada dulu, dengan sistem kredit yang banyak diberlakukan sekarang ini, cukp punya DP 200 sampai 5 ratus ribu, sudah bisa dapetin sepeda motor, atau DP 2 hingga 5 juta sudah bisa ngeceng dengan mobil, angsurannya, bisa 2 sampai lima tahun, bisa jadi seumur hidup kedepannya. Perkembangan yang sungguh menggoda bukan? Dan pemerintah pun mengamininya dengan terus menargetkan angka penjualan sepeda motor dan mobil tiap tahunnya, dengan hitungan adanya devisa dan atau pajak yang masuk ke negara.

Nah, pertanyaan keduanya?

Apa anda punya sepeda?

Atau, apa anda bisa mengendarai sepeda?

Menarik, dikampung saya di Karawang, ada anak yang bisa mengendarai sepeda motor, ia baru sekolah di bangku SD, tapi hebatnya ia tidak bisa mengendarai sepeda (catat : nggak pake motor). Dia rupamya langsung belajar atau diajarkan, naik sepeda motor, padahal biasanya bertahap dari sepeda, lantas sepeda motor lalu mobil dan bisa jadi kapal dan pesawat nantinya atau bahkan kereta api. Rupanya naik sepeda motor lebih bergengsi dibandingkan naik sepeda.

”Mana ada cewek yang mau diajak jalan jaman gini naik sepeda Bang, harus bermotor, apalagi kalau motornya cowok banget” – kira2 seperti itu alasannya.

Sesuai kemapuan ekonomi, yang terkadang bisa dipaksakan dengan menjual kebun atau tanah, tensi gengsinya naik dari sepeda motor ke mobil dst. Ini kenyataan yang mau nggak mau adalah ya kenyataan.

Kebanyakan dari kita pastinya sudah tahu, apa dampak dari semakin banyaknya kendaraan bermotor (sepeda motor, mobil dan sejenisnya). Polusi, global warning, ozon, TBC – kata2 tersebut menjadi perwakilannya.

Budaya bersepeda

Jika dikaitkan dengan polusi, global warning dkk, maka sepeda dan kendaraan bermotor jelas memiliki peran yang berbeda. Mana yang menimbulkan polusi, mana yang mengakibatkan bumi semakin panas, dan mana yang mengancam masa depan bumi ini. Tapi, saya tidak akan membahasnya, yang ingin saya bahas adalah mengenai budaya bersepeda kaitananya dengan mentalitas masyarakat kita, dimana seperti yang tertulis diatas, kita terkadang seakan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan kemauan kita, tapi atas dorongan dari luar, bahkan diluar alam sadar kita. Trend yang manyatakan bahwa bersepeda motor atau bermobil lebih gaul dibanding bersepeda harus dikikis atau dikritisi, artinya kita tidak menelan mentah-mentah rekayasa dari mereka yang menciptakan budaya massa yang terlatarbelakangi kepentingan modal itu.

Sinetron, film, iklan bahkan buku dan blog ini bisa jadi ikut berperan dalam memantapkan budaya ’gengsi’ yang dimaksud.

Jujur, saya semakin bingung dengan keaybord yang saya sedang cocol-cocol ini, entah dia yang salah atau saya yang salah hingga terbentuk tulisan ini yang kayaknya semakin ngaco dan menceramahi diri sendiri.

Ya sudah, pada intinya, kita sudah sama tahu! Jika tidak tahu, kan tinggal cari tahu!

Catatan : saya juga termasuk orang yang sudah tidak bersepeda lagi, hampir 5 tahunan kali!

Kategori:babble
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: