Beranda > opinion > Bandung dalam Sejarah dan Sejarah untuk Bandung

Bandung dalam Sejarah dan Sejarah untuk Bandung

Bandung dahulu merupakan daerah jajahan kolonial yang terdiri dari perkebunan yang subur yang mewarisakan sistem budaya yang bersahabat dengan alam, dan Bandung sekarang adalah daerah urban yang mewarisakan budaya konsumerisme yang cenderung tidak bersahabat dengan alam.

Pada jaman kolonial, Bandung merupakan daerah perkebunan. Ini berawal dari usaha Pemerintahan Hindia Belanda dalam menutupi kas keuangan yang kosong akibat kekalahan perang Jawa melawan pangeran Diponegoro. Belanda mengikuti apa yang dilakukan Inggris melalui pencetusnya Raffles, usaha tersebut yakni (Haryoto Kunto/Wajah Bandung Tempoe Doeloe) menggalakan tanam paksa (cultuurstelsel) untuk rakyat priangan dari mulai tanaman kopi, teh dan tanaman komoditas perdagangan lainnya..

Di Bandung, kita kenal nama-nama daearah seperti Kebon Bibit, Kebon Kalapa, Kebon Jati, Tamansari dll, penaamaan tempat itu pada dasarnya berdasarkan kondisi waktu itu, kebon (kebun) bibit misalnya, dahulu dilokasi ini merupakan tempat pengembangan bibit tanaman, lalu di Kebon Kapala dan kebon jarti adalah kawasan tempat pohon kelapa dan jati tumbuh subur begitu pun Tamansari, dulu bernama Jubileumpark, yang merupakan hutan tropis mini yang dimiliki Bandung tempo dulu.

Selain penderitaan yang tentunya dialami rakyat priangan selama tanam paksa itu berlangsung ada juga hikmah positif bagi perkembangan Bandung dan masyarakatnya kemudian hari, diantaranya menjadikan masyarakat priangan menjadi mahir bercocok tanam, selain itu terbentuknya juga irigasi maupun infra stuktur lain yang menunjang perkebunan dan pertanian yang ada.

Jauh sebelum pendudukan kolonial, Bandung merupakan hamparan danau purba, ini dibuktikan menurut hasil penelitian dan penginvetarisan peninggalan prasejarah oleh von Koenigswald (1930 s.d 1935) dengan ditemukannya banyak bukti sejarah berupa alat-alat obsidian (sejenis batu keras) diberbagai lokasi yang tersebar di daerah meliputi Ujung Berung, Nagreg, Cicalengka, Majalaya, Ciparay, Banjaran, Soreang, Cililin, Padalarang, Cimahi, Lembang dan Dago. Yang memiliki ketinggian 725 m diatas permukaan laut (dpl). Danau purba yang menyusut ini mengahasilkan wilayah yang subur hingga akhirnya dimaksimalkan oleh kolonial.

Kearifan lokal dan keseimbangan alam

Masyarakat Bandung dengan mata pencaharian pertanian dan perkebunan memiliki budaya yang dibentuk menyeimbangkan dengan alam. Seperti sistem becocok tanam ataupun adat-adat lain yang berkaitan dengan alam.

Sebagian dari kita tentu ingat cerita si Kabayan yang banyak kalangan mengatakan merupakan representasi orang priangan, namun ini dibantah oleh orang priangan sendiri. Si Kabayan yang ceritanya diangkat ke layar lebar mengisahkan seorang pemuda yang hidup di alam pedesaan yang memilki lahan pertanian, lalu disisi lain cerita sikabayan juga menyiratkan nilai-nilai mistis seperti kaitannya dengan jin penghuni pohon ’angker’.

Kisah si Kabayan itu bukan hanya fiktif belaka, tapi berdasarkan juga kondisi yang ada dan mengakar di masyarakat tatar sunda termasuk Bandung. Bahwa memang telah berkembang kepercayaan yang terkait dengan alam. Alam dipercaya sebagai sesuatu yang hidup, memiliki rasa senang juga marah. Maka dari itu muncul upacara adat yang ditujukan untuk memuja alam ataupun larangan-larangan untuk tidak menyakiti alam alam, seperti larangan untuk menebang pohon-pohon besar yang dipercaya memiliki penunggu (sejenis jin dalam cerita si Kabayan) atau larangan untuk memasuki lahan atau hutan tertentu. Selain itu di masyarakat pertanian dikenal upacara Hajat Bumi yang dilakukan sebelum musim tanam tiba sebagai rasa syukur kepada Yang Kuasa atas berkah yang diberikan lewat alam yang subur.

Kebudayaan, menurut C. Kluckhom dan W. H Kelly merupakan pola hidup dalam sejarah, yang explisit, implisit, irasional dan non rasional, yang terdapat dalam setiap waktu sebagai pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia. Dari pengertian ini kita bisa mensyahkan bahwa kebudayaan sebagai produk manusia hasil interaksi sosialnya terdiri dari hal yang terlihat dan tidak terlihat secara jelas maupun hal yang rasional dan tidak rasional.

Walaupun secara rasio, kepercayaan atau larangan menebang pohon misalnya dianggap tidak rasional, namun disisi lain larangan ini bisa jadi dimaksudkan agar orang tidak dengan gampangnya merusak tanaman, dalam hal ini bisa jadi sistem budaya yang dibentuk memang sudah memikirkan sejauh ini dengan rasio si penganggas budaya ini.

Namun, budaya lokal atau kaarifan lokal ini luruh sejalan dengan manusia yang menempatkan rasio dipuncak tertinggi peradabannya, yang rasional diagungkan dan dipertahankan, yang dianggap tidak rasional ditinggalkan. Orang tidak segan lagi membabat hutan dan menggunduli perkebunan untuk dibuat menjadi perkotaan. Lahirlah kota Bandung yang megah dan ramai dengan latar belakang penghuninya yang sebagian besar adalah pendatang, sedangkan masyarakat lokal yang kebanyakan masih menganut sistem nilai yang masih kuat tersisih hingga kepinggiran Bandung. Generasi ’rasional’ ini lebih suka menebang pohon besar untuk komoditas ataupun pembukaan lahan, daripada membiarkannya dengan alasan takut bahwa jin penghuni pohon akan mengamuk.

Perilaku yang katanya rasional ini disatu sisi memang benar tapu disisi lain tidak bisa dibenarkan secara penuh karena perilaku ini tidak menimbang terlebih dahulu nilai tertinggi dari kebudayaan yang ada. Seperti larangan menembang pohon tertentu, pada kenyataannya tidak terbaca oleh rasio semata, mereka tidak menyadari bahwa bukan jin yang sebenarnya akan marah ketika pohon-pohon besar ditebang tapi alam itu sendiri secara kumulatif yang akan marah. Ketika pohon-pohon yang berfungsi sebagai penahan resapan air dan penyaring udara ditebang maka longsor dan banjir juga polusi udara bisa jadi siap mengancam, dan seperti ada istilah mengatakan bahwa sekarang ”Bandung sudah heurin ku tangtung” (bandung sudah sesak dengan bangunan menjulang) maka bersiaplah bahwa air yang menyurut akan kembali kepermukaan dan mengakibatkan terbentuknya Danau Bandung masa depan hasil reinkarnasi dari Danau Bandung Purba.

Sejarah akan mencatat dan terus mencatat untuk Bandung dikemudian hari, akankah Bandung lebih baik ketika kearifan lokal tidak lagi bijaksana.

Iklan
Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: