Beranda > opinion > Soeharto dan Stalin

Soeharto dan Stalin

Vladimir Ilyich Lenin adalah bapaknya Uni Soviet. Lenin-lah yang berperan dalam menempatkan Uni Soviet menjadi salah satu pusat kekuatan dunia yang di belahan lain yang dipegang oleh Amerika Serikat dan kekuatan mahadasyat Nazi Jermannya Hitler. Dan, Lenin jugalah yang bertanggung jawab terhadap lahirnya komunisme Uni Soviet yang selama berjayanya telah mengorbankan lebih dari seratus juta orang dalam jangka waktu 62 tahun (dari 1917 sampai 1979).

Kapitalisme yang menggerayangi kehidupan Eropa pada awal 1990-an berperan besar dalam membangkitkan sosialisme. Dan bersama dengan itu pula komunisme mendapatkan tempatnya dibawah bayang-bayang sosialis yang mengatas namakan buruh dan kaum tertindas.

Dengan bendera Sosialisme, Lenin membawa partai Bolsyewik mengorganisir kaum buruh dan massa yang menderita untuk melakukan revolusi. Dengan semboyannya “Roti, Tanah dan Damai”, pada tanggal 26 oktober 1917 di kota Petrogard Lenin dan pasukan merahnya mengambil alih kekuasaan dan merebut Istana Musim dingin Tsar yang saat itu di kendalikan oleh Kerenski dari partai Sosialis-Revolusioner yang memimpin revolusi Februari 1917.

Perjalanan kedepannyalah yang kemudian menjadi petaka bagi sejarah Lenin dan Revolusi Oktobernya, dimana demi mempertahankan pengaruh, pembunuhan massal ala komunis kerap dilakukan, tidak ada pembangkang, semuanya tersentral pada komite pusat dibawah bayang-bayang Lenin. Alih-alih, rakyat terbebas dari monarki absolut Tsar, diera sosialis Lenin, kemudian yang paling parah diera penerusnya yakni Joseph Stalin, rakyat UniSoviet malah tertekan baik di dalam maupun luar negeri, terutama diluar negeri dimana musuh-musuh Soviet seperti Nazi Jerman dan Negara Adidaya lainnya yakni Amerika Serikat memberikan tekanan bertubi-tubi, hingga akhirnya Unisoviet yang merupakan negara kesatuan yang terdiri dari koloni-koloni hampir di Eropa bagian timur pecah, dan banyaklah negara yang menyatakan kedaulatannya sendiri, maka lahirlah Bosnia, Kroasia, dan lainnya termasuk Rusia yang menjadi sisa akhir dari sentralisasi dalam kerangka soviet.

Revolusi oktober di Unisoviet (kini Rusia) adalah tidak ada bedanya dengan revolusi di Indonesia, yang membuahkan kemerdekaan yang dideklarasikan pada 1945 dan juga revolusi-revolusi lainnya di dunia yang diwarnai darah. Harus ada yang berkorban dan dikorbankan dalam revolusi : harta, tenaga bahkan jiwa. Dan didalam skema revolusi selalu ada kaum elite yang memiliki peranan, jika pada revolusi oktober ada Lenin dengan partai Bolsyewik yang menjadi penjaga revolusi, maka di Indonesia ada Soekarno dengan kaum nasionalisnya.

Menjadi hal menarik adalah dari penerusnya, dimana di Rusia memiliki Stalin sebagai yang dikatakan penerus ’tidak syah’ dari Lenin, maka di Indonesia ada Soeharto yang juga memiliki predikat yang tidak jauh berbeda dengan Stalin dalam proses menyambung kekuasaanya, hingga kini Supersemar (surat perintah 11 maret) itu tetap misterius.

Noda hitam perjalanan komunis di Rusia paling banyak diciptakan pada era kekuasaan Stalin. Dimana stalin terlalu angkuh dengan kekuasaannya. Terjadinya pembantaian yang dasyat dan merusak stabilitas ketentraman dunia. Begitupun Soeharto dengan orde barunya yang menggenggam Indonesia salam 35 tahun dengan disertai pembantaian dengan modus PKI dan diakhir kekuasaanya menyisakan utang yang begitu besar namun seakan sulit untuk diadili.

Namun, disatu sisi tidak dapat dipungkiri ’masa keemasan’, baik Rusia maupun Indonesia terletak dikedua pemimpin tersebut, Stalin dan Soharto, dalam konteks mengangkat populeritas bangsa, terlepas akhirnya memiliki poin negatif.

Kini, nasib Soviet (Rusia) dan Indonesia tidak jauh berbeda, keduanya seakan terlupakan dari percaturan dunia, kedua pemimpinnya tidak lagi sewibawa Soekarno dan Lenin serta setegas Stalin dan Soeharto.

Rasanya khusunya Indonesia memerlukan Stalin atau Soeharto baru saat ini!! Dengan catatan, Soeharto dan Stalin baru tersebut tidaklah seculas aslinya. Namun sifat yang dibawa dari keduanya adalah keberanian dan otoriter dalam mengarahkan negara menuju kejayaan. Bukankah otoriter itu harus dimiliki seorang pemimpin, sepenuhnya?! Bukan semata-mata otoritas partai atau tim sukses bhkan kelompok elite dibelakangnya? Indonesia butuh pemimpin yang tegas… harus ada banyak tindakan tegas yang diambil saat ini, sebelum semuanya terlambat!!

Iklan
Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: