Beranda > Writing in Print Media > Ajakan Untuk Mengkaji Ulang Kebudayaan

Ajakan Untuk Mengkaji Ulang Kebudayaan

Oleh : Deni Andriana

Kebudayaan bersifat dinamis, memungkinkan terjadinya pergeseran baik secara nilai maupun konsepsi. Karena pada hakekatnya kebudayaan merupakan produk manusia, dimana manusia memiliki sifat yang terus bergerak, belajar, beradaptasi, bersosialisasi dan tentunya berpikir. Karena produk manusia itulah, kebudayaan pada hakekatnya bergantung pada manusia sebagai pembentuknya.

Manusia menciptakan sebuah kebudayaan atas dasar sebuah kepentingan, baik dalam jangka waktu yang pendek maupun jangka waktu yang panjang. Membentuk sebuah konsepsi untuk mengatur tingkah lakunya.

Menurut C. Kluckhom dan W. H Kelly, kebudayaan merupakan pola hidup dalam sejarah, yang explisit, implisit, irasional dan non rasional, yang terdapat dalam setiap waktu sebagai pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia. Dari pengertian ini kebudayaan berarti sesuatu yang sudah mengalami pembabakan waktu yang tidak dalam sekejap, artinya ada proses yang dilewati, suatu periode yang menjadikannya bagian dari sejarah. Dan secara sederhana sejarah merupakan sesuatu yang sudah terjadi sebelumnya.

Secara terpisah, Koenjtaraningrat mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Pengertian ini dapat memperkuat pengertian C. Kluckhom dan W. H Kelly sebelumnya, bahwa kebudayaan tidak berproses sendiri dalam waktu untuk melegitimasi dirinya sendiri menjadi hal yang diakui setiap zaman setelahnya, dalam proses itu manusia sebagai penciptanya terus menerus berperan terhadap keberlangsungan kebudayaan tersebut, ada proses belajar, dimana tidak hanya mengikuti tapi juga memproses.

Kebudayaan yang hari ini kita hadapi adalah bukan benda yang teramat keras yang harus kita telan mentah-mentah, tapi menjadi benda layaknya besi yang bisa dicairkan, dalam penganalogian ini, besi ditangan ahli bisa dicairkan didalam sebuah tungku dengan bara api yang terukur dan dalam keadaan cair itu besi itu kemudian di masukan kedalam sebuah cetakan baru yang disesuaikan dengan kebutuhan, semisal dari asalnya yang berbentuk balok dibentuk ulang menjadi bentuk bola. Walaupun berubah bentuk, tetap itu adalah sebuah besi, identitas sebagai besi dan nilai dasarnya tidaklah berubah yang berubah adalah nilai gunanya, yang tadinya dengan bentuk balok misalnya digunakan untuk penyangga hiasan, kini berubah menjadi bola untuk olahraga tolak peluru.

Analogi besi diatas, bisa digunakan juga pada kebudayaan, karena merupakan buah pikir manusia dan menjadi sebuah warisan untuk manusia setelahnya maka kebudayaan harus di terjemahkan setiap generasinya. Dalam konteks ini, kebudayaan bisa dipelajari dan diraih nilai manfaatnya. Kebudayaan yang berlaku dimasa lalu, harus ditinjau ulang untuk diberlakukan dimasa kini, sesuai kebutuhan zaman, sesuai dengan kemampuan berpikir dan memroses manusia. Ketika kebudayaan itu disesuaikan dengan zaman, maka kebudayaan yang baik tidak akan musnah begitu saja, karena akan dengan sendirinya mempertahankan dirinya ditengah tuntutan zaman. Seperti halnya besi yang didaur ulang sebagaimana pun tetaplah memiliki kadar besi sebagai zatnya.

Dalam kasus ini, kita bisa berkaca pada warisan budaya Jepang yang digagas pada zaman Jepang dibawah kekuasaan keluarga militer (Bakufu) pada era 1603-1858 Masehi, yakni bushido (moral samurai), sebuah budaya bangsa yang berisikan ajaran tentang kesetiaan, kejujuran, etika sopan santun dan tatakrama, disiplin, kerelaan berkorban, kerja keras, kebersihan, hemat, kesabaran, ketajaman berpikir, kesederhanaan serta kesehatan jasmani dan rohani. Budaya bushido atau moral samurai ini tetap bertahan sampai sekarang, karena memang diakui lintas zaman sebagai suatu hal yang relevan dan memiliki nilai yang kuat.

Terjadinya pengkajian ulang atas sebuah kebudayaan adalah sebuah upaya yang terlahir atas rasionalitas yang dikembangkan manusia, zaman modern saat ini rasionalitas menjadi ukuran kelayakan diluar hal-hal yang menyangkut agama atau kepercayaan yang tidak semua bisa diterjemahkan dalam pikiran manusia secara rasional. Yang pasti, karena kebudayaan terlahir dari cipta karya manusia yang berpikir, maka dengan berpikirlah kebudayaan dipelihara dan ditumbuh kembangkan.

Sikap kritis inilah yang pada dasarnya membuat sebuah kebudayaan mendapatkan tempatnya dalam sebuah zaman ke zaman, karena tanpa sebuah sikap kritis, maka kebudayaan dengan sendirinya menjadi barang asing yang bukan saja tidak dikenal tapi malah menakutkan. Seperti kebudayaan Jawa perihal perempuan yang digugat karena membuat kaum perempuan kehilangan hak-haknya sebagai manusia merdeka, yang mulai disanggah oleh R. A Kartini. Itu salah satu upaya kritis untuk menempatkan kebudayaan yang ada pada ruang waktu yang terus mengalami perubahan.

(Dimuat di Radar Karawang / Selasa 5 Juni 2007)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: