Beranda > opinion > Evaluasi Pengajaran Sejarah

Evaluasi Pengajaran Sejarah

Pengajaran sejarah di sekolah-sekolah, dari tingkat SD hingga SMA, cenderung hanya tahap pengenalan, bukan pemahaman. Siswa dituntut untuk menghapal bukan mengerti. Seperti menghapal tanggal suatu peristiwa penting, nama-nama pahlawan, isi suatu perjanjian, nama-nama perang dan segala sesuatunya yang menjadikan mata pelajaran sejarah membosankan, bahkan lebih membosankan daripada matematika untuk sebagian besar siswa.

Pengalaman saya di perkuliahan mengenai studi sejarah adalah ketika, di awal-awal perkuliahan mata kuliah sejarah pers, di jurusan Jurnalistik, Fikom Unisba, pada tahun 2004. Waktu itu, diawal perkuliahan sang dosen menerangkan silabi mata kuliah yang akan Ia ajarkan dikelas yang memiliki durasi pertemuan 3 SKS dalam satu minggu tersebut dan dihabiskan selama satu semester.

Setelah menyelesaikan paparannya mengenai silabus mata kuliah sejarah pers tersebut, sang dosen mempersilahkan kepada mahasiswa dikelas yang berjumlah sekitar 30 orang itu untuk bertanya, terutama mengenai silabus perkuliahan yang Ia sampaikan, dimana disitu tertera bagaimana mata kuliah sejarah pers disampaikan dalam setiap pertemuannya oleh sang dosen dengan bahasan-bahan yang sudah ditentukan.

Maka, dikesempatan itu, saya beranikan untuk bertanya :

”Bu, saya hanya ingin mendapatkan jaminan, apakah sejarah tentang pers yang Ibu akan sampaikan adalah benar? Maksud saya, dewasa ini kan sudah banyak terungkap bahwa banyak sejarah yang palsu, terutama referensi-referensi yang dibuat dibawah orde baru.”

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, sang dosen tampak kelihat bersemangat untuk menanggapi. Hingga akhirnya ia malah bertanya balik kepada saya : ”Memangnya menurut anda harus bagaimana?”

Mendapatkan kesempatan kedua, maka saya tidak menyia-nyiakannya dan langsung memaparkan apa yang saya pikirkan tentang metode pangajaran sejarah yang tepat menurut pandangan saya,

”Bagaimana kalau setiap pertemuan kita kemas dengan diskusi. Jadi, bukan Ibu yang berada di depan untuk menyampaikan materi, tapi kami (mahasiswa) yang berada di depan untuk memaparkan materi dalam setiap babak sejarah seperti yang ada di kurikulum, pada silabus tadi. Mekanismenya dibuat perkelompok. Setiap minggunya satu kelompok maju kedepan untuk memaparkan makalahnya tentang satu bahasan atau periode sejarah. Setelah itu kita diskusi dengan melibatkan tanya jawab antara audiens dan kelompok yang di depan. Diakhir-akhir, baru Ibu yang memberikan komentar atau menjadi sosok jika diskusi mentok.”

Mendapatkan usulan saya tersebut, sang dosen tampak berseri-seri dan sesuai harapan saya akhirnya Ia menawarkan tawaran saya tersebut ke mahasiswa lainnya di kelas. Hingga akhirnya terjadi kesepakatan. Dan berlangsunglah perkuliahan sejarah pers yang interaktif dalam satu semester tersebut.

Sejarah tentang pers dianalisis dan juga dikritisi oleh mahasiswa di kelas itu dengan bimbingan sang dosen, alhasil belajar sejarah tidak lagi membosankan seperti yang saya alami di masa SD, SMP sampai SMA, dimana siswa lebih dituntut untuk menghapal daripada memahami atau bahkan mengkaji serta mengkritisi sesuatu yang dianggap janggal.

Sejarah menjadi sesuatu yang mutlak, seakan menjadi kebenaran sejati layaknya firman Tuhan dalam kitab suci. Padahal, sejarah sendiri hanyalah persfektif penulisnya. Dimana penulis atau pencatat sejarah tentunya memiliki subjektifitas yang sulit dihindarkan, minimal itu tercermin dari sisi mana Ia memandangnya. Satu bahasan mengenai sebuah kerajaan misalnya, bisa dipandang dari persfektif ekonomi, politik, atau bahkan kebudayaan dan masing-masing memiliki ragam variasi dalam hasil akhir kesimpulan atas kerajaan.

Nah, cerita tentang pengalaman belajar sejarah yang saya alami di perguruan tinggi (kuliah) diatas, semoga menjadi salah satu contoh dari pengajaran sejarah, yang tidak menempatkan sejarah layaknya firman Tuhan.

Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: