Beranda > Writing in Print Media > Candi Batujaya dan Cibuaya Karawang Terancam Punah

Candi Batujaya dan Cibuaya Karawang Terancam Punah

Oleh : Deni Andriana

Selain terkenal dengan sebutan lumbung padinya Jawa Barat, dewasa ini seiring dengan diketemukannya kompleks percandian di dua lokasi terpisah yakni Batujaya dan Cibuaya, Kabupaten Karawang mendapatkan predikat baru sebagai lumbung candi di Jawa Barat, mengingat hasil temuan candi disana lebih luas diantara lokasi-lokasi lainnya di provinsi penyangga ibu kota DKI Jakarta ini.

Saya tidak akan menjelaskan terlalu jauh tentang seluk beluk dan nilai-nilai arkeologis dan sebagainya, karena seyogyanya jauh sebelum saya menulis tulisan ini, beberapa tulisan mengenai candi ini baik dari peneliti, sejarawan, pengamat sampai budayawan telah ramai mengiringi kepopuleran candi ini, khususnya diawal tahun 2000.Yang saya akan lebih kedepankan adalah, bagaimana dengan sekarang?!

Banyak hal yang diteliti, banyak kesimpulan dan spekulasi kenyataan yang diterbitkan mengenai situs Batujaya dan Cibuaya di Karawang ini, bukan hanya oleh peneliti dan ilmuan dalam negeri bahkan juga dari luar, diantaranya Belanda dan Perancis. Sejumlah penelitian itu seakan membuka harapan bahwa tabir misteri yang menyelimuti sejarah kepurbakalaan Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Dan memang benar ternyata sedikit demi sedikit mulai terjawab. Nama Tarumanegara muncul sebagai kerajaan yang berkuasa saat dibangunnya percandian yang terbesar di Jawa Barat ini (minimal sampai belum diketemukan wilayah lainnya), kemudian muncul juga kesimpulan bahwa candi ini dibangun sekitar abad 2 Masehi, jauh lebih tua dibandingkan candi di Jawa Tengah semisal Borobudur (abad 8 M) yang menjadi salah satu dari delapan keajaiban dunia, dan tentu saja kesohor didunia.

Sejumlah penelitian sudah dilakukan, sejumlah kesimpulan sudah dikedepankan, maka selesai sampai disitu. Tinggal menunggu penelitian lanjutan yang dimunculkan dari kesimpulan sebelumnya, karena seperti itulah sejarah diupayakan menjadi sejarah, terus direvisi mendekati kesempurnaan yang sesungguhnya diragukan. Ya, selesai sampai disitu, kemudian tinggalkan lokasi, semuanya berkumpul di laboratorium untuk mengambil bukti-bukti yang ditemukan dilokasi demi kepentingan penelitian, nah lalu bagaimana dengan lokasinya?

Pertanyaan terakhir itu yang kemudian mendorong saya untuk menulis tulisan ini. Dipenghujung 2006 lalu, tepatnya pasca hari raya Idul fitri, singkat cerita saya berkunjung ke lokasi percandian Batujaya yang sohor itu, melewati perjalanan yang lumayan melelahkan, macet tentu saja walaupun tidak terlalu parah, banyak kendaraan yang tampaknya memiliki tujuan yang sama, beberapa diantaranya tampak berlawanan arah, rupanya tengah menuju arah pulang. Namun, beberapa kendaraan yang saya yakini adalah para wisatawan lokal terus melaju kearah lain ketika saya berbelok kesebuah jalan dimana tertera “Candi Jiwa” yang berada di desa Segaran kecamatan Batujaya –ya saya berbelok kearah jalan itu karena itulah tujuan saya, namun mereka tidak berbelok, mereka terus lurus, dan saya langsung berkesimpulan waktu itu bahwa bukan ke kompleks percandian ini arah wisata mereka tapi ke pantai Pakisjaya yang memang berada tidak jauh. Maka saya lanjutkan perjalanan, dan sampailah dilokasi yang dimaksud. Terletak ditengah hamparan pesawahan yang ditanami padi yang sudah mulai berbuah, candi yang dinamai candi Jiwa tampak gagah menantang langit. Berjarak ± 5 petak sawah, terdapat candi Blandongan yang dibentengi oleh seng, ternyata masih mengalami proses pemugaran. Dua candi itulah yang saya temukan, selebihnya saya tidak menemukan gerombolan wisatawan disana, yang ada hanya empat orang muda-mudi yang tengah bercengkrama, itupun saya yakini dari logat bahasa mereka adalah penduduk setempat. Setelah puas melihat-lihat dan berfoto-foto, maka saya keluar lokasi pesawahan itu dan berusaha mencari narasumber untuk saya tanyai seputar candi tersebut, dan bersyukur ketika disebuah rumah yang tidak jauh dari pintu masuk lokasi yang dijaga sejumlah anak kecil yang meminta iuaran masuk tanpa karcis yang entah kemana jalur pengelolaannya, maka saya bertemu dengan juru pelihara situs yang juga disebut kuncen, dan dimulailah percakapan yang juga direkam dengan Mini-DV yang saya bawa dengan tujuan awalnya yakni membuat film dokumenter tentang percadian di Karawang. Dan dari obrolan atau wawancara singkat itu saya mendapatkan banyak keterangan bukan hanya mengenai sang candi dan bagaimana berjalannya proses penelitian yang telah dilakukan dilokasi tapi juga saya diajak kesebuah gudang yang sebelumnya terkunci, sebuah ruangan ± 6 X 5 Meter yang di dalamnya terdapat fosil manusia, tembikar, dan berbagai jenis bebatuan yang diketemukan di lokasi yang masih terbungkus. Ternyata benda-benda itu belum mendapatkan tempat yang layak, masih ditumpuk. Adapun museum yang juga berada di desa Segaran itu yang terletak tidak jauh dari lokasi candi, tampak tutup, karena libur lebaran, sedikit aneh, padahal saya berpikir ini adalah lokasi wisata dimana umumnya buka di hari libur, karena dihari liburlah sebuah tempat wisata dikunjungi dengan ramai. Ya entahlah, yang pasti hilang kesempatan saya waktu itu untuk melihat apa saja yang ada di museum itu.

Di hari berikutnya saya kembali menuju lokasi lain, yakni percandian di desa Cibuaya, seperti halnya perjalanan menuju Batujaya, keramaian tetap ada, bahkan jalan lebih ramai, karena ada dua lokasi pantai yang bisa dituju, yakni pantai Samudera Baru dan pantai Pisangan di kecamatan Pedes. Dan perkiraan saya tepat, mereka kebanyakan memang menuju dua lokasi tersebut, bukan ke lokasi candi Cibuaya. Dan yang sangat saya sayangkan ketika ternyata penduduk dilokasi sana tidak banyak yang mengetahui letak candi yang saya tuju didesa mereka, beberapa orang yang saya tanya di pasar yang berada didesa tersebut malah bertanya-tanya kalau didesa mereka ada situs purbakala. Aneh, ya memang aneh tapi itulah kenyataannya. Kantor desa masih tutup karena memang masa libur lebaran, jadi tidak ada yang bisa saya tanyai secara langsung, dan untungnya setelah mondar mandir mencari pentunjuk saya bertemu dengan penduduk yang tahu maksud saya, dan menunjukan dimana lokasi yang saya tuju, itupun dia tidak yakin kalau merupakan candi, dia hanya bilang bahwa tempat itu memang sering dikunjungi orang luar terutama yang mengaku ilmuan dan petugas pemda. Ya tidak salah lagi, itu memang tempatnya, simpul saya berdasarkan petunjuk juru pelihara situs di Batujaya sebelumnya.

Luar biasa terkejut, ketika yang saya dapatkan hanya sebuah unur (gundukan tanah) ditengah hamparan sawah, dimana di atas unur itu berada tumpukan bata yang sudah berantakan tidak dirawat, apalagi dipagar, beberapa petani yang saya temui ketika tengah beristirahat di unur itu malah terheran-heran dan memiliki kisah atau cerita lain mengenai tumpukan bata yang dimaksud, mereka memang mengakui bahwa tempat itu adalah tempat keramat yang turun temurun dari nenek moyang atau sesepuh disana, tapi mereka sendiri tidak yakin bahwa tumpukan candi itu adalah sebuah candi peninggalan abad ke 2 Masehi. menurut seorang petani yang saya wawancarai, dahulu memang banyak unur di lokasi pesawahan ini, tapi kebanyakan sudah rata dengan tanah pesawahan, sudah dijadikan lahan pertanian, yang tertinggal hanya dua unur yang katanya dilarang digarap, karena sudah di ambil alih oleh pemerintah. Dan diantara mereka juga ada yang ingat, kalau dulu ada cerita bahwa dilokasi pesawahan diketemukan sebuah mahkota yang terbuat dari emas oleh seorang petani. Tapi cerita tentang kerajaan atau candi, mereka tidak tahu dengan pasti. Ya, kembali inilah kenyataannya.

Selang satu minggu, saya beranjak ke kantor Dinas Penerangan Pariwisata dan Budaya Kabupaten Karawang untuk melengkapi film dokumenter yang saya buat, dan akhirnya bertemu dengan seoarang petugas tepatnya yang bertugas dibidang pariwisata, dikesempatan itu saya bertanya mengenai perhatian pemerintah akan dua lokasi percandian dan rencana kedepannya untuk peninggalan masa lalu itu, dan alangkah kagetnya ketika saya mendapatkan jawaban bahwa pihak pariwisata tidak tertarik mengelola tempat itu karena katanya tidak memiliki prosfek bisnis yang cerah, dibandingkan lokasi-lokasi pantai yang sudah terbukti mendatangkan pemasukan ke kas Pemkab. Apalagi, menurutnya sama sekali candi tersebut tidak menarik, hanya tumpukan bata semata. Lagi-lagi itulah kenyataannya.

Candi Batujaya dan Cibuaya kondisinya kini

Komplek percandian Batujaya menurut data yang saya temui berada dalam radius 5 hektare dan terdiri dari 24 lokasi candi, 13 lokasi berada di Desa Segaran Kecamatan Batujaya dan sisanya 11 lokasi di Desa Telagajaya Kecamatan Telagajaya yang memang berbatasan dengan Desa Batujaya. Dari 24 lokasi ini, baru 10 lokasi yang digali dan diteliti dan baru 2 candi yang dipugar, serta baru satu yakni candi Jiwa yang sudah rampung, satunya lagi candi Blandongan belum rampung. Diyakini kompleks pencandian ini adalah berlatarkan agama Buddha. Situs percandian Batujaya ini diketemukan pertama kali pada 1984 oleh tim arkelogi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kemudian dipugar untuk pertama kalinya tahun 1996.

Sedangkan di kompleks Cibuaya, para peneliti menemukan 3 buah arca Wisnu dari 7 reruntuhan yang diketemukan. Dan yang masih tersisa dalam bentuk unur hanyalah candi Lemah Duhur Lanang dan Lemah Duhur Wadon. Dua nama ini mengandung arti, lemah berarti tanah, duhur berarti tinggi, sedangkan lanang berarti laki-laki dan wadon adalah perempuan. Jadi lemah duhur lanang artinya tanah tinggi laki-laki ditandai dengan banyaknya pepohonan yang tumbuh dan lemah duhur wadon berarti tanah tinggi perempuan karena tidak atau jarangnya pohon yang tumbuh. Kedua lokasi ini sama sekali terbengkalai pasca diambilnya harta-harta peninggalan dan barang bukti. Penemuan arca Wisnu dilokasi ini mengisyaratkan bahwa agama Hindu-lah yang melatarbelakangi komplek percandian ini.

Sejarah masa lalu komplek percadian Batujaya dan Cibuaya mulai disusun, beberapa kesimpulan sudah diketengahkan, tapi marilah kita juga mencatat untuk sejarah bahwa di abad ini, atau tepatnya periode sekarang umat manusia atau sebuah bangsa membengkalaikan peninggalan masa lalunya. Ya ini adalah sebuah kenyataan, bukan spekulasi ketika kita melihat kenyataan bahwa komplek percandian di kabupaten Karawang mulai ditinggalkan setelah assetnya diambil dengan latar belakang penelitian. Padahal jika kita prospekan kedepannya, kedua kompleks percandian yang terbesar di Jawa Barat ini memiliki potensi yang besar untuk dijadikan lokasi wisata sejarah yang luar biasa, bukan saja akan menguntungkan secara materi baik bagi masyarakat sekitar ataupun pemerintah, tapi juga demi kelestarian sejarah bangsa, apalagi situs ini adalah peninggalan abad ke-2 Masehi yang jauh lebih tua dibandingkan candi Borobudur yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun internasional. Dan jika mengaca kesuksesan Borobudur, seperti yang bisa kita baca di buku ‘Borobudur’ karangan Daoed Joesoef mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Pembangunan III (1978-1983) terbitan Kompas 2004, tentang bagaimana perjuangan untuk mengembalikan Borobudur, hingga akhirnya seperti yang bisa kita lihat dan nikmati sekarang, maka memang dibutuhkan banyak pengorbanan, banyak biaya, tidak semata-mata diukur pada untung rugi untuk mengelolanya tapi lebih kepada upaya penyelamatan sebelum benar-benar punah.

Bahkan menurut juru pelihara situs dilokasi Candi Batujaya, lokasi ini seharusnya bisa menyaingi Borobudur, tidak tanggung-tanggung jika cerdik, bisa saja dibuat lokalisasi wisata dimulai dari monumen proklamasi ‘kebulatan tekad’ di Rengas Dengklok, pantai Pakisjaya dan komplek Percandian Batujaya dan Cibuaya, ini akan menjadi lokasi wisata yang luar biasa. Namun secara modal atau pengorbanan pun tentu saja akan lebih besar, terutama dalam pembebasan tanah penduduk, yang untuk komplek percandian Batujaya saja idealnya harus membebasakan minimal 5 X 5 KM tanah yang dominannya adalah areal pesawahan yang secara harga tentu sangat mahal, karena merupakan lahan produktif. Diperkirakan untuk pemugaran, penataan dan pembebasan tanah memerlukan dana ± 4 triliyun rupiah. Itulah kenyataannya, banyak hal yang bisa dilakukan, tapi banyak hal pula yang menjadi rintangan, tapi upaya itu sedikit demi sedikit sebenarnya sudah harus dilakukan, minimal adalah perlindungan dan pemagaran pada setiap lokasi candi ditiap unur (yang sudah diteliti sebelumnya) supaya tidak dirusak oleh binatang liar ataupun orang-orang yang tidak bertanggung jawab atau malah orang yang tidak tahu menahu bahwa tumpukan bata itu adalah peninggalan sejarah seperti di komplek Cibuaya. Dan upaya ini harus dilakukan bersama-sama oleh pemerintah pusat, Pemkab Karawang juga aparatur kecamatan dan desa yang ada didua lokasi ini serta tentunya melibatkan masyarakat setempat.

Waktu terus berlalu dan sejarah akan terus mencatat!

(Dimuat di Harian Radar Karawang / Jumat 8 Juni dan Senin 11 Juni 2007)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: