Beranda > opinion > Idealisme : Sesuatu yang Mengawang-ngawang?

Idealisme : Sesuatu yang Mengawang-ngawang?

Idealisme yang aku ambil adalah harga mati bagi roh perjuanganku.. Walau terkadang idealisme itu hanya omong kosong yang tak ubahnya sebuah pedang tak bertuan yang bisa membunuh diriku sendiri.. yang pasti idealisme-ku hari ini adalah sikapku saat ini.. Besok? Hanya Tuhan yang tahu!! – (dalam sebuah puisi yang ditulis pada 15 Oktober 2005)

Apa itu idealisme?
Seberapa pentingkah orang memiliki idealisme?

Menurut Louis O. Kattsoff (1986), pengertian idealisme yang populer berarti semacam pemimpi. Seseorang penganut idealisme merupakan seseorang yang tidak praktis yang pandangannya tertuju kepada hal-hal atau keadaan-keadaan yang hakekatnya sempurna. Pengertian yang populer di masyarakat ini menjadikan penganut idealisme dianggap sebagai orang yang mengawang-ngawang, tidak realistis.

Masih menurut Kattsoff, istilah idealisme dalam bahasa kefilsafatan, lebih menunjuk kepada ide daripada menunjuk pada ideal. Maka dari itu sebenarnya lebih cocok disebut ’ide-isme’, namun karena alasan lebih sulit diucapkan, maka istilah idealisme-lah yang dipakai.

Orang yang mengaku memiliki idealisme seringkali dicemooh oleh mereka yang realis/realistis. Suatu kasus pernah menimpa teman saya di kampus. Dia adalah seorang aktivis gerakan yang tetap keukeuh dengan prinsip-prinsip yang dianut oleh organisasi gerakannya. Misalnya dalam kasus perkuliahan, Ia menginginkan kesempurnaan dalam pengajaran seorang dosen, Ia menuntut suatu yang perfek. Dalam kelas harus ada diskusi, kuliah harus berbobot, pokoknya sempurnalah segala sesuatu itu harusnya. Walau terkadang Ia tidak sadar bahwa segala sesuatunya di dunia ini tidaklah ada yang sempurna. Bahwa kesempurnaan itu adalah ketidaksempurnaan yang disadari.

Oleh teman-teman yang lain, Ia sering dicemooh sebagai mahasiswa sejati, istilah sejati itu mengandung maksud sebagai cemoohan.

”idealis banget sih loe jadi mahasiswa?” Itulah sebuah pertanyaan yang teman saya itu dapat suatu hari dari temannya.

Dan Ia menjawab pertanyaan itu dengan perkataan : ”Wajarlah kalau saya idealis, mumpung masih menjadi mahasiswa. Kalau sudah tidak lagi menjadi mahasiswa, toh semuanya punya pilihan masing-masing.”

Jawaban itu sontak saja membuat dahi teman-teman yang lain berkerut. Berarti, disatu sisi ia pun suatu waktu akan menjadi orang yang realistis dong. Kalau sekarang menolak sogokan, bisa saja suatu waktu setelah Ia lulus kuliah dan bekerja, Ia pun menerima uang sogok karena kebutuhannya berbeda. Nah?

Apakah idealisme itu memang sesuatu yang harus dituntut? Bahkan menjadi sesuatu yang menuntut? Kalau begitu, susah banget yang namanya hidup? Penuh tuntutan?!

Rupanya, pengertian populer idealisme yang menuntut sesuatu yang ideal seperti kata Louis Kattsoff itu telah mengakar di diri teman-teman saya. Mereka lupa atau memang tidak tahu bahwa hakekatnya idealisme hanyalah terdiri dari ide yang berarti juga gagasan, artinya cita-cita.

Jika kita merunut pada pengertian idealisme yang menunjuk kepada ide, maka idealisme itu tentu saja tidak harus menjadi beban. Karena merupakan sesuatu yang datang dari diri sendiri. Bukan dari luar sepenuhnya.

Komunisme, pancasila, fasisme adalah sebuah ideologi. Namun terkadang sebuah ideologi selalu dipaksakan. Dari kecil kita sudah dicecoki pancasila, semenjak SD hingga kuliah, selalu ada pelajaran pancasila. Pancasila selalu dibuat menjadi sesuatu yang benar dimata dan pikiran kita. Itulah yang dinamakan doktrinisasi sebuah ideologi. Karena terus dicekoki, maka sesorang pastinya akan merasa muak, hingga menyimpulkan bahwa ideologi yang melahirkan idealisme menjadi sesuatu yang membebani. Mereka sudah merasa terbebani dan ingin lari sebelum memahami teks dan konteks dari sebuah ideologi.

Paparan diatas hanya sebuah gambaran usang dari idealisme, idelis bahkan ideologi. Tapi kenyataannya memang idealisme selalu dianggap sebagai sesuatu yang ’langitan’ – mengawang-ngawang. Semoga anggapan ini dikritisi lebih lanjut oleh kita yang menyadari bahwa idealisme bukanlah yang mengawang-ngawang, bahwa kita hakekatnya memiliki idealisme, karena tidak ada manusia yang tidak mempunyai cita-cita, serendah apapun cita-cita itu.

Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: