Beranda > Writing in Print Media > Dua SKS untuk Berorganisasi

Dua SKS untuk Berorganisasi

Oleh : Deni Andriana

BIASANYA mahasiswa yang aktif berorganisasi di kampus lazimnya akan berkata, “Untung gua ikut organisasi karena ternyata terasa manfaatnya untuk mendukung kuliah juga persiapan masa depan sehabis kuliah nanti.” Sementara
itu, mahasiswa yang tidak berorganisasi, berkata, “Untung gua fokus kuliah, hingga nilai gua tidak ancur kayak teman-teman yang pada sok sibuk berorganisasi!”

Ya, lazimnya seperti itu yang sering penulis dengar, terutama di kampus penulis bahwa ada dua atau bahkan lebih pandangan yang mengaitkan antara organisasi dan akademik. Dua hal ini seakan terpisah yang satu sama lain saling mengancam. Berdiri sendiri. Walaupun ini sering dibantah, terutama oleh mahasiswa yang berorganisasi bahwa sebenarnya organisasi itu mendukung kuliah, banyak hal yang bisa kita dapatkan dalam sebuah organisasi untuk mendukung kuliah kita. Biasanya pembelaan ini menjadi kata sakti dalam mempromosikan organisasi mahasiswa untuk merangkul anggota/kader-kadernya.

“Minat mahasiswa zaman sekarang terhadap organisasi sudah turun, bung!” seru seorang pengurus lembaga kemahasiswaan (UKM) ketika mencoba kritis terhadap fenomena yang ada. Tapi tahu tidak, apa penyebab menurunnya minat mahasiswa untuk berorganisasi?

Mari kita telaah: Pertama, faktor internal organisasi kemahasiswaan sendiri yang tidak bisa menarik perhatian mahasiswa calon anggotanya. Kedua, sistem pendidikan, terutama kurikulum yang diterapkan di perguruan tinggi yang padat dan tidak mendorong mahasiswa untuk beraktivitas di kampus selain yang berkaitan secara langsung dengan perkuliahan.

Cukup dua faktor. Satu faktor lagi, yakni “salah mahasiswanya” sengaja tidak penulis masukan karena menurut penulis mahasiswa tidak berorganisasi tidaklah harus dipersalahkan. Berorganisasi atau tidak, itu adalah sebuah pilihan. Dan dari kedua faktor ini yang akan penulis kritisi adalah faktor kedua, yakni sistem pendidikan di perguruan tinggi.

Tri Dharma PT

Tridarma perguruan tinggi yang terdiri dari: pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, seperti yang tercantum dalam UU Sisdiknas Sistem Pendidikan Nasional juga dipertegas dalam peraturan pemerintah, pada implementasinya kebanyakan memosisikan perguruan tinggi layaknya sopir angkot yang harus mengejar setoran untuk diserahkan kepada majikan/pemilik angkot. Begitupun pengelola perguruan tinggi (PT) yang mengejar setoran dari undang-undang dan peraturan pemerintah sebagai syarat berjalannya sebuah perguruan tinggi/universitas. Ya, sebatas mengejar setoran, yang penting sampai, selebihnya tinggal menghitung “sisa-sisa keuntungan”.

Pendidikan, unsur pertama ini hanya menjadi rutinitas yang terkadang membosankan, apalagi di kampus-kampus yang masih memiliki dosen-dosen berjiwa feodal dengan gaya ceramahnya yang memosisikan diri sebagai dewa. Ditambah dengan fasilitas pendidikan seperti laboratorium yang dikebanyakan kampus tidak sebanding dengan biaya kuliah dan materi kuliah yang harus diaplikasikan. Pendidikan adalah hanya jalan untuk meningkatkan derajat dengan sebatas gelar, aplikasi ilmunya nanti, itu tanggung sendiri!

Penelitian, unsur yang satu ini sangat sulit ditemui selain di akhir-akhir masa kuliah, yakni di saat penyusunan skripsi. Mahasiswa diposisikan “bertanggung jawab” melakukan penelitian hanya sebagai prasyarat kelulusan karena esensi skripsi secara tuntutan ya untuk satu hal itu, kelulusan. Selebihnya, itu tergantung motivasi masing-masing mahasiswa untuk menghibur dirinya sendiri, misalnya dengan alasan untuk menguji kemampuan diri sendiri, mahakarya dll.
Yang pasti, kebanyakan skripsi setelah selesai hanya menumpuk di rak-rak perpustakaan untuk minimalnya menjadi bahan untuk peneliti selanjutnya, dibiarkan begitu saja dan dibiarkan di copy paste tanpa adanya upaya lebih untuk menghargai karya mati-matian si pembuatnya (penelitian selain skripsi?).

Pengabdian kepada masyarakat, banyak PT/universitas yang memanfaatkan unsur ini semata-mata hanya untuk berpromosi, turun ke masyarakat melakukan bakti sosial ketika menjelang akan dibukanya penerimaan mahasiswa baru.
Waw.., sebegitu parahkah kondisi dan kinerja perguruan tinggi kebanyakan di negara ini? Tentu tidak semuanya negatif, banyak hal positif juga yang sesungguhnya ada. Namun, dalam konteks ini penulis sebenarnya ingin mengajak mengaitkan ketiga unsur tridarma yang tidak maksimal dipenuhi itu dengan organisasi kemahasiswaan.

Jika kita cermati, sebenarnya ketiga unsur tridarma bisa diaplikasikan dalam organisasi kemahasiswaan karena sesungguhnya tridarma semata-mata bukan hanya tugas pimpinan perguruan tinggi, tetapi juga untuk civitas academica dan di dalamnya yakni dosen dan mahasiswa. Jika dosen bisa menebusnya dalam kaitannya dengan posisinya sebagai pengajar dan pendidik, lantas yang harus diperhatikan adalah mahasiswa.

Dalam organisasi kemahasiswaan, sesungguhnya tiga unsur tridarma tersebut bisa dilaksanakan walaupun dalam ruang lingkup yang kecil. Anggota organisasi misalnya pencinta alam ketika dia melakukan petualangan ke alam, dia akan bersentuhan dengan masyarakat sekitar dan memungkinkan untuk melakukan bakti kepada masyarakat, lalu selain itu dia pun meneliti kondisi alam dan masyarakat sekitarnya walaupun tidak memakai metodologi layaknya yang digunakan untuk skripsi.

Yang pasti, proses ini dilakukan dengan tanpa embel-embel kejar setoran. Fungsi pendidikan, semua organisasi memiliki unsur pendidikan, minimal pada bidang kegiatannya masing-masing. Pendidikan secara formal sesungguhnya sudah didapatkan di ruang kuliah. Organisasi tinggal memantapkan dan memberi ruang untuk pengamalan kedua unsur lainnya, yakni penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Penulis yakin, wacana ini adalah wacana umum yang juga sudah disadari banyak orang, terutama penyelenggara dan pengelola perguruan tinggi, bahwa seperti itulah organisasi kemahasiswaan. Oleh karena itu, di tiap kampus diizinkan untuk mahasiswa membuat atau mengajukan organisasi terutama yang sesuai dengan bakat dan minat, apalagi keilmuan. Organisasi mahasiswa di dalam kampus diposisikan memang untuk mendukung kegiatan kuliah.

Namun pertanyaannya sekarang adalah, seberapa banyak mahasiswa yang masuk dan terlibat dalam organisasi, apakah sudah sampai kepada angka 50% dari mahasiswa yang ada? Jawabannya bisa kita tebak dengan mudah, jangankan pada angka itu, 30% pun belum tentu. Artinya, banyak mahasiswa yang tidak menjalankan tridarma yang kemudian menjadi dosa perguruan tinggi tersebut yang tidak melakukan upaya lebih untuk menuntut mahasiswanya berorganisasi dan menjalankan tridarma beserta pengembangan-pengembangannya.

Persoalannya, di satu sisi kurikulum yang disusun begitu padat dan membuat mahasiswa berpikir ulang untuk membagi waktunya untuk berorganiasi dengan konsekuensi dia akan mengorbankan kuliahnya. Karena mahasiswa dituntut menyiasati sendiri di tengah dua pilihan yang salah satunya harus diprioritaskan. Melatih manajemen diri, tetapi tidak memberikan solusi seperti apa langkahnya. Inilah yang tidak dilakukan selama ini.

Dua SKS

Sebuah langkah cerdas jika kegiatan dalam organisasi kemahasiswaan dimasukkan ke dalam kurikulum, misalnya dengan bobot 2 SKS, yang mau tidak mau akan diikuti oleh segenap mahasiswa. Hal itu sekaligus memberi peluang bagi seluruh mahasiswa untuk merasakan fasilitas kampus yang bernama organisasi kemahasiswaan. Lalu di sisi lain, pengamalan tridarma yang penulis tekankan di tengah tulisan ini bisa dipenuhi secara serempak oleh segenap civitas academica.

Penempatan kegiatan organisasi kemahasiswaan dalam kurikulum ini memang membutuhkan langkah yang berani dari para penyelenggara dan pengelola perguruan tinggi. .***

(Dimuat di Rubrik Mimbar Suplemen Kampus Pikiran Rakyat – Kamis, 21 Juni 2007)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: