Beranda > Writing in Print Media > Taman Kota Untuk Siapa?

Taman Kota Untuk Siapa?

Oleh : Deni Andriana

Pada dasarnya dalam satu hari setiap manusia membutuhkan ½ kilogram Oksigen dan sebuah pohon menghasilkan 1 Kg Oksigen. Artinya dalam satu hari dua orang manusia membutuhkan satu pohon untuk memenuhi kebutuhan oksigennya.

Kepadatan penduduk di kota-kota besar Indonesia sejalan dengan padatnya hunian dari rumah berkategori menengah kebawah sampai perumahan elite, belum ditambah dengan perkantoran, pusat pembelajaan sampai pabrik-parbrik yang menjadi ciri khas kota besar di Indonesia yang memiliki daya tarik secara ekonomi yang membuat orang berduyun-duyun hijrah dari daerah perkampungan untuk mencari peruntungan.

Padatnya bangunan ”memakan” korban bernama RTH (ruang terbuka hijau), termasuk taman kota di dalamnya, hal ini bisa dilihat misalnya di kota Bandung yang notabene sempat dijuluki sebagai kota taman sejak era kolonial. Saat ini luas taman di Bandung sesuai data yang ada pada Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung seluas 723.424,67 M2 yang terbagi kedalam 252 taman, data ini belum ditambah jalur hijau lainnya seperti pemisah jalan atau jalur pepohonan di trotoar. Secara keseluruhan, terjadi penurunan luas taman sejak pertama kali mulai dibangun pada era kolonial 1917, yang di barengi dengan dibentuknya Bandoengsche Committee Tot Natuurbescherming atau Komite Bagi Perlindungan Alam Bandung (Kunto, 1986). Pengurangan luas RTH ini merupakan effek dari pembangunan yang tidak bersahabat dengan lingkungan.

Dari Fungsi Ekologis, Estetis sampai Fungsi Sosial

Taman kota yang menjadi salah satu alasan Bandung sempat mendapat julukan Varis van Java merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat kota. Seperti layaknya paru-paru dalam tubuh kita, taman kota memiliki fungsi yang signifikan. Secara umum, taman kota memiliki tiga fungsi yang satu sama lain mempunyai keterkaitan, diantaranya fungsi ekologis, estetika dan fungsi sosial.

Fungsi ekologis, memosisikan taman kota sebagai penyerap dari berbagai polusi yang diakibatkan oleh aktivistas penduduk, seperti meredam kebisingan maupun yang paling significant adalah menyerap kelebihan CO2, untuk kemudian dikembalikan menjadi oksigen (O2).

Selain menghasilkan oksigen, pohon juga berperan besar dalam menetralisir udara, dimana secara fisiologis tumbuhan memiliki kemampuan untuk mengakumulasi logam berat seperti Cu (Tembaga), Zn (Seng), Cd (Cadmium), Pb (Timbal/timah hitam), dan Mn (mangan), yang digunakan sebagai katalisator reaksi metabolisme dan berperan pada pembentukan organ tumbuhan. (www.ecoton.or.id)

Dalam fungsi ekologis ini pula, taman kota menjadi tempat untuk melestarikan berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Pelestarian ini, selain untuk mempertahankan jenis-jenis tumbuhan dan hewan dari kepunahan, juga untuk menyeimbangkan kehidupan itu sendiri, mengingat tumbuhan, hewan dan juga manusia mempunyai keterkaiatan satu sama lain untuk menjalankan hidupnya, dengan fungsinya masing-masing yang saling mendukung bila dijalankan dengan benar.

Fungsi yang kedua adalah fungsi estetis, dimana taman kota dapat mempercantik estetika sebuah kota. Apalagi dengan mempertahankan keasliannya.

Pada kenyataannya dewasa ini, banyak taman kota yang sudah direkayasa sedemikian rupa dengan alasan estetis. Seperti taman-taman yang ada di perempatan atau persimpangan jalan yang tidak begitu luas namun jumlahnya cukup banyak. Taman-taman jenis ini, seperti yang dikatakan Direktur Eksekutif Yayasan Pengembang Biosains dan Bioteknologi (YPBB) David Sutasurya, secara fungsi ekologis tidak begitu berarti. Menurutnya, fungsi estetis itu akan terlahir dengan sendirinya jika taman yang ada tetap mempertahankan keasliannya. Karena pada dasarnya keindahan tersebut akan hadir dengan sendiri, mengingat tanaman memiliki nilai seni yang tidak ternilai terhitung dari proses pertumbuhannya sampai daun-daunnya yang berguguran.

Fungsi yang terakhir adalah fungsi sosial, dimana taman kota menjadi tempat bagi berbagai macam aktivitas sosial seperti berolahraga, rekreasi, diskusi dan lain-lain. Fungsi ini pada dasarnya menjadi kebutuhan warga kota sendiri yang secara naluri membutuhkan ruang terbuka untuk bersosialisasi sekaligus menyerap energi alam.

Menurut dosen Planalogi Universitas Islam Bandung Sri Hidayati, idealnya taman harus ada dalam Skala 100 meter dan secara rasio setiap 100 penduduk pada dasarnya membutuhkan sebuah taman. Kebutuhan ini harus dipenuhi dari tingat RT, RW, desa, kecamatan sampai kota dengan jenis berbeda secara fungsi sosial. Taman ditingkat RT atau RW misalnya, dapat menjadi tempat untuk bersantai warga. Lalu taman ditingkat desa atau kecamatan bisa menjadi tempat berolahraga dan taman ditingkat kota bisa menjadi sarana rekreasi dan pusat sosialisasi warga kota seperti halnya taman alun-alun kota.

Kota yang Baik, Taman yang Ideal dan Warga yang Sehat

Sebuah kota yang baik harus menyediakan sekitar 20 % untuk RTH dari luas kota tersebut. Angka 20 % ini adalah sesuai dengan keputusan Mendagri. Sedangkan di kebanyakan negara Eropa sudah menetapkan bahwa setiap kota harus menyediakan lahan sebanyak 40 % untuk dijadikan taman. Dan seperti yang dibahas diatas, idealnya harus disediakan sebuah taman untuk setiap 100 orang penduduk dengan hitungan minimalnya setiap taman tersebut memiliki 50 pohon untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Lalu, dilingkar luar kota harus merupakan lahan hijau supaya mencerminkan kesan yang bersahabat dan pembawaan yang sejuk dan damai ketika orang memasuki kota. Ketika taman telah dilestarikan sesuai dengan keasliannya, maka ketiga fungsi yang telah disebutkan sebelumnya akan terbangun dengan sendirinya dan menjadi taman yang ideal.

Taman yang ideal adalah taman yang memenuhi ketiga fungsi pokoknya, yakni fungsi ekologis, estetis dan sosial. Dan ketiga fungsi itu saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Yang pasti dimana taman tersebut dilestarikan sesuai dengan keasliannya, maka ketiga fungsi itu akan terbangun dengan sendirinya.

Membangun kota yang memerhatikan lingkungan memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Nyatanya banyak faktor yang bisa menghambat yang pada pangkalnya disebabkan oleh perilaku manusia itu sendiri. Dalam hal ini Sri Hidayati menjelaskan tiga hal. Pertama, tidak tegasnya pemerintah dalam mengatur pembangunan yang tidak bersahabat dengan lingkungan. Kedua adalah faktor kemiskinan, dimana menimbulkan perilaku yang menyebabkan banyak taman ataupun RTH lainnya terganggu, misalnya digunakan sebagai hunian orang miskin. Faktor yang terakhir adalah rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.

Ketiga faktor itu harus menjadi fokus yang harus ditangani secara serius untuk kemudian menjadi solusi dalam melindungi dan melestarikan taman kota beserta RTH lainnya. Hal terdekat yang bisa dilakukan tiap individu adalah mulai menyadari bahwa taman di sebua kota memiliki peranan yang tidak bisa disepelekan. Nyatanya aspek estetis bukanlah satu-satunya fungsi dari sebuah taman.

Jika dikembalikan pada kebutuhan, apakah kita lebih memilih keindahan atau kesehatan? Melihat keindahan versi manusia dengan tubuh yang sakit atau melihat keindahan alam yang murni dengan tubuh yang sehat? Karena keindahan alam pada dasarnya tidak harus direkayasa, dengan sendirinya jika kita jaga dan lestarikan alam itu akan menawarkan keindahannya.

(Dimuat di Majalah Greeners / Volume 2 Edisi 07 – Oktober 2007)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: