Beranda > Writing in Print Media > Memotret Realitas Sosial Lewat Metode Kualitatif

Memotret Realitas Sosial Lewat Metode Kualitatif

Oleh : Deni Andriana

Judul Buku : Menulis Ilmiah Metode Penelitian Kualitatif
Penulis : Septiawan Santana K.
Penerbit : Obor
Tahun Cetak : Agustus 2007
Tebal : 226 halaman

”DUNIA ilmiah, selama ini, banyak dikenal sebagai dunia serius. Dunia objektif. Penalaran. Kaku. Tidak boleh mengandung human interest. Cara menalar dan menulis riset mesti seperti mesin kalkulator, penuh perhitungan,” demikian ditulis oleh Septiawan.

Banyak mahasiswa yang kelabakan ketika dihadapkan pada tugas akhir atau skripsi. Permasalahannya berkisar di beberapa hal. Pertama, tidak menguasai metodologi; kedua, tidak bisa menulis laporan. Paling tidak, itu yang penulis temui pada diskusi yang diselenggarakan Club Metodologi di Unisba sebelum Ramadan lalu.

Kemudian, pertimbangan lain dalam menghadapi tugas akhir biasanya berkisar pada pemilihan dua paradigma yang akan dipilih, kuantitatif atau kualitatif. Seorang mahasiswa dalam diskusi tersebut, mengaku ia memilih metodologi kuantitatif karena ia tidak bisa mengarang! Menurut dia, kualitatif adalah naratif. Sebaliknya, peserta diskusi yang lain memilih kualitatif karena alasan menghindari hitung-hitungan, statistik. Ia juga beralasan karena kajian keilmuannya sosial, maka ia harus mengeksplorasi permasalahan sosial secara lebih mendalam. Tidak terbatas pada angka-angka dan menurutnya, kualitatif memenuhi kriteria itu.

Pada banyak buku metodologi, selalu dibahas perbandingan kuantitatif dan kualitatif. Namun, dewasa ini tampaknya para pakar sepakat untuk menyudahi perdebatan mana yang lebih unggul atau bahkan mana yang lebih ilmiah, di antara keduanya. Menurut mereka, yang namanya metodologi adalah menyesuaikan dengan apa yang hendak dibedah dan goal (tujuan) apa yang dicari dalam penelitian. Metodologi adalah pisau bedah, artinya pisau itu menyesuaikan dengan benda atau objek apa yang hendak dibedah.

Yang lebih penting adalah tentukan dahulu objek dan permasalahannya bukan pisaunya. Hal ini setidaknya dapat menjawab pertanyaan atau bahkan kegelisahan mahasiswa yang terjebak dalam wacana ”mana yang lebih unggul”, antara kualitatif dan kuantitatif.

Fokus buku ini, seperti pada judulnya, membahas dan mencoba memberikan jalan keluar bagi mahasiswa yang utamanya telah memilih metode kualitatif, tentang bagaimana menulis kualitatif. Isinya bisa juga dijadikan rujukan bagi mahasiswa yang awalnya ketakutan bahwa menulis laporan penelitian yang ilmiah itu sangat sulit.

Septiawan Santana membagi buku ini menjadi lima bab yang cukup sistematis. Bab pertama merupakan pendahuluan. Bagian ini berkutat seputar topik penelitian dari mengenali audiens pembaca laporan dan menentukan topik penelitian berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya.

Bab kedua mengulas apa itu tulisan ilmiah kualitatif. Salah satu yang menarik adalah tentang ”leburnya fakta dan fiksi”. Fakta dimaksudkan sebagai sebuah hal yang tentu saja menjadi kemutlakan yang harus ada dan tidak bisa ditawar dalam sebuah laporan penelitian. Sementara, fiksi diartikan imajinasi, di mana imajinasi mendorong terjadinya proses kreatif. Peleburan dua hal ini memungkinkan terciptanya susunan dan alur fakta yang menarik dan tidak kaku.
Lalu, pada bab ketiga pembaca diajak memahami bagaimana mengerangka tulisan kualitatif. Bagaimana memahami susunan atau stuktur tulisan kualitatif secara umum, sampai pada kualitatif yang lebih khusus. Termasuk berbagai pendekatan, seperti biografi, fenomenologi, grounded theory, etnografi, dan studi kasus.

Pada bab selanjutnya, dipaparkan mengenai bagaimana mengalurkan tulisan. Di sini dikemukakan beberapa pilihan, di antaranya dengan gaya naratif, deskriptif, eksposisi, argumentatif, dan kombinasi. Pada bab penutup, dimunculkan saran penulis atas beberapa hal yang akan dihadapi atau sedang dihadapi peneliti, yakni penguasaan sumber bahasan atau kesulitan dalam mencerna sumber literatur.

Setelah membaca buku ini, setidaknya kita akan bisa menjawab pertanyaan, ”Bagaimana menulis kualitatif?”. Walaupun Septiawan sendiri mengakui bahwa buku ini tidak memaparkan secara keseluruhan. Pada dasarnya praktik di lapanganlah yang akan memberikan pemahaman yang sesungguhnya. ”Semua kesulitan pasti ada jalan keluarnya, dan tidak ada yang tidak mungkin selain menggigit kepala sendiri,” begitu kata orang bijak. Selamat menulis penelitian kualitatif!

(Dimuat pada rubrik Resensi, Suplemen Kampus Pikiran Rakyat, Kamis 22 November 2007)

http://beta.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=2166

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: