Beranda > opinion > Nabi Palsu Itu Bernama MUI?

Nabi Palsu Itu Bernama MUI?

”MUI bukan satu-satunya Ormas Islam. Karena itu, jangan gegabah dalam mengeluarkan pendapat yang bisa membuat kesalahpahaman. Saya minta MUI tidak menggunakan kata sesat,” ujar Gusdur. (Koran Tempo, 31 Desember 2007)

Menurut Gusdur atau Abdurahman Wahid, MUI (Majelis Ulama Indonesia) memiliki andil atas terjadinya tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama dengan fatwa yang dikeluarkan. Apa yang dikatakan Gusdur ini pada realitanya memang benar adanya.

Jika kita runut beberapa fatwa yang dikeluarkan MUI memang berekses pada timbulnya aksi anarkis beberapa golongan yang mangatasnamakan Islam. Kejadian yang masih hangat adalah penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah, yang oleh fatwa MUI dinyatakan sebagai aliran sesat, di Kuningan dan yang paling terbaru adalah di Majalengka. Kelompok yang merasa paling benar ber-Islam itu melakukan tindakan amoral seperti melempari rumah dengan batu dan yang paling tidak bisa ditolerir adalah merusak mesjid yang digunakan kelompok Ahmadiyah, catat mereka menyebutnya mesjid Ahmadiyah, mesjid yang bagi mereka adalah bisa dinyatakan sebagai tempat beribadahnya orang beraliran sesat, mungkin itu jadi alasan bagi kelompok penyerang itu. Alasan yang tentu saja bisa kita nilai sungguh dangkal.

**

Orang-orang besar yang atau yang terkadang sok besar cenderung tidak mau dikritik dan dievaluasi atau bahkan dipersalahkan, dan inilah sebagian besar karakter yang dimiliki orang-orang besar di negeri ini. Datangnya kritik dianggap akan mengancam reputasi atau kebesaran mereka. Pada MUI, yang berisikan ulama-ulama besar di negeri ini, kita bisa menyimak sikap defens mereka dalam berbagai kritikan yang meluncur kepada mereka terkait adanya keterkaitan antara anarkisme yang belakangan muncul dalam kehidupan beragama dengan fatwa yang telah MUI buat.

Salah satunya silahkan simak kutipan berita Koran Tempo berikut ini :

Ketua komisi fatwa MUI Kiai Ma’aruf Amin menyatakan masalah kekerasan terhadap pengikut Ahmadiyah harus dipisahkan dari fatwa MUI. Sebab, fatwa tentang Ahmadiyah sebagai aliran sesat sudah merupakan keputusan bersama para ulama sedunia di Jeddah pada 1985. Lima tahun sebelumnya MUI sudah mengeluarkan fatwa tersebut. Kekerasan, kata Ma’aruf, terjadi karena adanya pembiaran dari aparat pemerintah. ”Orang kita itu cepat emosi, tapi dibiarkan saja,” ujarnya. (Koran Tempo, 31 Desember 2007)

Apa yang dikatakan orang MUI dalam berita Tempo (atau coba search komentar lain dari MUI terkait permasalahan ini) menggambarkan kepada kita bahwa selalu harus ada yang dikambing hitamkan dalam sebuah permasalahan, dan dalam hal ini kambing berwarna hitam itu adalah pemerintah, sosok yang selalu menjadi sasaran dari banyak hal buruk di negeri ini (sebagian besar memang selalu tepat).

Saya menilai, tampaknya MUI tidak sadar atau bahkan tidak mau menyadari bahwa mereka mau tidak mau sudah menjadi selebriti, mengingat mereka melakukan positioning seperti itu, akibatnya apa yang dikatakan dan diserukan mereka memiliki effek kuat dalam mempengaruhi orang lain. Bahayanya lagi, fatwa yang mereka keluarkan bisa malah dijadikan alat oleh mereka yang tidak beradab atau yang berkepentingan secara politis, ekonomi atau bahkan yang berniat menghancurkan Islam.

Sebelum komentar Ketua komisi fatwa MUI di Koran Tenpo tersebut, jauh sebelumnya sekitar sehari setelah penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di Kuningan pada 18 Desember lalu, dalam wawancaranya ditelivisi ketua MUI mengatakan bahwa alasan mereka mengatakan sesat kepada aliran seperti Ahmadiyah atau aliran lainnya, adalah karena aliran-aliran tersebut telah keluar dari mainstream Islam. Sebelumnya Ia mengatakan sudah dilakukan dialog dan beberapa aliran sepakat dengan pandangan MUI, dan akhirnya tidak dinyatakan sesat. Sedangkan, yang tetap tidak sepakat dengan mainstream Islam, maka anarkisme mengancam mereka, dengan label sesat yang mereka sandang.

***

Pluralisme itu indah kawan, tidak ada yang bisa kita nikmati lebih banyak dari keseragaman. Sesuatu yang seragam itu menjemukan.

Pluralisme atau keragaman adalah jadi diri bangsa Indonesia, ingat bangsa bukan hanya negara, tanpa bangsa maka tidak ada negara. Negara berdiri dan berjalan untuk bangsa bukan sebaliknya.

Apa yang dinyatakan dalam sila pertama pancasila yakni ”Ketuhanan yang Maha Esa” adalah pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan merupakan jawaban atas persoalan kehidupan antar umat beragama yang muncul, itu jika kita masih menganggap bangsa dan negara Indonesia itu ada, dan juga menganggap pancasila sebagai landasan idiil dari Indonesia.

Jika tidak mau dibilang sembrono dalam mempertimbangkan sebab atau akibat dari fatwa yang dikeluarkan, MUI bisa jadi malah mempunyai sikap yang malah hendak menentang pluralisme. Bisa jadi kan?

Dan bukankah Nabi dan Rasul terakhir pun (Muhammad Saw) mengajarkan untuk menghargai perbedaan dan memperlakukan umat lain secara manusiawi, jika memang kenyataan sekarang ada paham yang betentangan dengan kaidah Rasulullah ini maka bisa jadi mereka adalah yang menjadikan dirinya sebagi sosok nabi dan rasul baru, dan dinegara kita bukankan itu adalah MUI?

—————–
Tulisan ini bukan bermaksud untuk menjustifikasi MUI, namun hanya ajakan untuk melakukan refleksi atas persoalan kemanusian dewasa ini. Semoga bermanfaat!

Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: