Beranda > babble > Sebuah Kisah Dari Desa Miskin

Sebuah Kisah Dari Desa Miskin

Katakanlah namanya Desa Miskin karena para penduduk desa tersebut hidup dalam garis kemiskinan. Masyarakat Desa Miskin membutuhkan pemimpin yang bisa membawa mereka keluar dari kemiskinan yang membelenggu mereka, padahal potensi desa baik dari hasil pertanian maupun pesona alam yang ada sebenarnya menjanjikan untuk menjadi desa yang makmur.

Mereka sadar bahwa pemimpin-pemimpin atau kepala desa sebelumnya telah membodohi mereka, mereka juga sadar bahwa sesungguhnya mereka bodoh karena tidak berpendidikan, dan mereka sangat berharap pada hasil pilkades, karena inilah salah satu jalan bagi mereka untuk menentukan nasib desanya sendiri. Hanya dengan cara memberikan suara di pilkades lah yang bisa mereka lakukan.

Para calon kades di desa miskin tersebut, menyadari kebutuhan warga desa yang akan dipimpinnya, namun para calon kades itu lebih pintar dari warga, mereka tidak menyorot kebutuhan warga akan pemimpin yang bisa merubah nasib desa mereka juga taraf hidup mereka, tapi para calon kades ini lebih menyorot kebutuhan warga akan rasa lapar dan kemiskinan yang ada. Mereka butuh sumbangan, mereka butuh beras atau uang untuk menghidupi kesehariannya. Kasih saja mereka amplop berisikan selembar atau dua lembar uang lima puluh ribu atau bagikan beras miskin dimasa kampanye, itu langlah efektif untuk merangkul mereka, mereka lebih membutuhkan itu, walaupun untuk jangka pendek.

Atas dasar pemetaan itu, banyak masyarakat Desa Miskin sebelum hari pemilihan kebanjiran amplop ataupun kiriman-kiriman dari para calon kades, dengan tentunya ada pesan baik yang tersurat atau tidak untuk warga yang bersangkutan untuk memilih mereka dalam pilkades.

Pemilihan kepala desa digelar dan penghitungan suara pun telah dilakukan, terpilihlah seorang kades yang tidak terlalu dekat dengan masyarakat, bahkan yang lebih aneh lagi Kades terpilih itu adalah salah seoarang pendatang dari kota yang belum lama bermukim di Desa Miskin yang kaya potensi itu. Setelah masa pemilihan, penghitungan lalu penetapan sang kades, warga masih disibukan dengan amplop ataupun sumbangan yang sampai kepada mereka, beras hasil pemberian belum habis.

Lalu, apa yang kemudian terjadi selanjutnya, Desa Miskin tetap menjadi desa miskin, warganya kembali merasakan kelaparan dibalik kekayaan alam desa mereka dan sang Kades tidak bisa merubah nasib desa mereka, sang Kades sibuk memperkaya diri sendiri. Mereka kemudian baru sadar, kalau ternyata kemiskinan merekalah yang sebenarnya dijadikan merek dalam pilkades, bukan nasib Desa Miskin ini dikemudian hari.

Sekelompok warga yang merasa dibohongi dan dibodohi dibalik kebodohan mereka berontak dan menggugat sang Kades, menuntut sang Kades untuk turun dan atau memenuhi tuntutan mereka yakni mengelola desa dengan benar, bukan memperkaya diri sendiri. Imbasnya kemudian, munculah tindakan-tindakan anarkis dari beberapa warga yang tidak bisa menahan diri, kantor desa dirusak, rumah sang Kades dilempari batu. Namun, pemberontakan mereka tidak membuahkan hasil, yang terjadi mereka malah dianggap sebagai pengacau keamanan desa dan dihukum. Sang kades tetap bertahta, karena pada dasarnya ia adalah pilihan masyarakat melalui pilkades yang digelar.

Kategori:babble
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: