Beranda > opinion > Mendiskusikan Komunisme

Mendiskusikan Komunisme

Beberapa aksi massa yang mencoba membubarkan diskusi-diskusi yang dituduh menyebarkan paham komunisme, membuat saya bertanya apakah ada yang salah dengan membahas komunisme, mendiskusikannya, meyakininya atau bahkan menganutnya. Apakah sistem, ideologi atau konstitusi negara ini melarang rakyatnya untuk menganut paham-paham lain atau sekedar memperajarinya lebih mendalam.

Komunisme seakan menjadi barang haram yang tidak boleh disentuh. Diskusi orang-orang tentang komunisme dianggap membahayakan. Padahal, peredaran buku dan literatur bahkan film tentang komunisme sudah dibebaskan. Tidak ada lagi pembredelan seperti pada era orde baru. Mendiskusikan dianggap sangat dekat dengan mempraktekan. Membaca atau menonton dianggap hanya untuk mengetahuinya untuk kemudian menistakannya.

Ada yang salah dan selalu salah pada praktek bernegara kita. Sesuatu selalu harus ditelan mentah-mentah, doktrin. Pelarangan diskusi seperti komunisme adalah bukti bahwa adanya bentuk terorisme ideologi atau bahkan teorisme negara jika memang negara menjadi bagian dari represifitas tersebut.

Secara historis, komunisme merupakan ideologi yang dihadirkan untuk menentang kapitalisme di eropa abad 19, yang pada akhirnya komunisme jugalah yang mempopulerkan kapitalisme dengan menentangnya secara ekstrem. Bapak revolusi Rusialah, Lenin yang menjadi peletak dasar ideologi yang di Indonesia dipraktekan oleh PKI ini. “Marxisme-Leninisme”, itulah nama dari pemikiran Lenin yang menginterprestasikan lain gagasan dari Karl Marx.

Tujuan dari Komunisme adalah menentang kapitalisme, maka dari itu komunisme menentang kepemilikan atau dominasi individu sebagai mana yang ada pada kapitalisme. Untuk memuluskan itu, maka harus ada pengendalian, dan partai komunisme lah yang kemudian menjadi wali atas peran pengendalian itu, semuanya tergantung pada partai dan dari sini kita kenal istilah totaliterisme sebagai bentuk lebih ketat daripada otoriterisme. Negara melalui partai yang menggenggamnya mengatur secara menyeluruh kehidupan rakyatnya.

Kesan atau pengetahuan kita selalu dibatasi atau digiring pada sisi buruk komunisme yaitu pada prakrek kekerasan bahkan pemusnahan yang dilakukan oleh penganutnya dulu. Pembantaian di Rusia (baca : Uni Soviet) atau bahkan diindikasikan dilakukan disini oleh PKI menjadi alasan kenapa kita harus membenci atau menistakan komunisme. Adapun sisi positifnya, tidak banyak digubah. Tentang bagaimana komunisme dalam banyak hal berhasil mengusir kapitalisme. Tentang bagaimana komunisme menempatkan kepentingan buruh dan petani, seperti yang juga digagas oleh Mao Zedong di Tiongkok.

Keterbatasan pengetahuan akan berbagai sisi komunisme itu ditenggarai oleh keterbatasan literatur atau bahkan akses terhadap literatur yang ada. Selain itu yang lebih berpengaruh adalah keterbatasan ruang kajian tentang paham ini, dan keterbatasan ini diakibatkan oleh penistaan yang membabi buta terhadap komunisme. Pembubaran, ancaman atau kekerasan seperti yang dipraktekan dewasa ini terhadap para peserta diskusi menjadi tindakan yang sungguh tidak cerdas dalam upaya mencerdaskan sebuah bangsa.

Adapun peredaran dan penjualan buku tentang komunisme tidaklah semata-mata sebagai usaha pencerdasan tapi lebih mengarah pada usaha untuk menjadikan komunisme sebagai komoditas dagang yang mengggiurkan. Coba saja kita amati pada judul-judul atau sampul buku yang beredar baik tentang komunisme, fasisme atau paham-paham yang di cap kiri. Tidak jarang ditemukan judul dan sampul yang dasyat atau bahkan didramatisir memiliki isi yang standar dan hanya berisikan ulasan sejarah dan tidak utuh.

Diskusi, adalah sebuah proses yang akan menguji pengetahuan kita dan juga mengobati ketidaktahuan. Selaan itu diskusi juga akan membuat kita tidak menerima sesuatu secara mentah. Kita dituntut untuk mencernanya dan menilainya dari proses berpikir yang kita lakukan dalam diskusi. Secara hukum, diskusi adalah menjadi hak dasar manusia atau HAM. Karena itu pihak yang menentang sebuah diskusi, apapun yang menjadi bahasan dalam diskusi tersebut, adalah melanggar hak asasi manusia dan pihak tersebutlah yang lebih pantas dinistakan dibanding paham komunisme sekalipun, karena secara nyata mereka menghambat pencerdasan masyarakat. Dan mencerdaskan rakyat adalah tujuan dari adanya republik ini.

Menjadi pertanyaan saya secara pribadi, apakah dengan menentang komunisme, bangsa kita sudah memahami sistem atau ideologi negara yang ada sekarang, apakah demokrasi sudah dipelajari, apakah pancasila juga sudah diamalkan, atau jangan-jangan kita pun tidak pernah mendiskusikannya? Lantas, sampai kapan bangsa kita berlindung dibalik kebodohan sendiri?

Kategori:opinion Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: