Beranda > opinion > Pemimpin Muda

Pemimpin Muda

Mengenai trend yang berkembang dalam dunia politik tanah air, isu pemimpin muda memang menarik dijadikan bahasan tersendiri.

Husni, Sekjen DPD I KNPI Jabar dalam seminar ‘Mencari Sosok Pemimpin Muda Indonesia’ yang diadakan oleh PWI Reformasi di Hotel Panghegar Bandung Rabu (10/9) lalu, mengatakan bahwa pemimpin muda hanyalah trend yang dimunculkan ditengah dominasi kaum tua dalam bursa pencalonan baik legistlatif maupun eksekutif. Ia menilai hal ini tidak lain merupakan trend sosial. Lebih penting dari itu semua, Husni menilai bahwa yang terpenting adalah mencari pemimpin yang ideal. Dimana salah satu cirinya adalah memiliki keberanian, dan keberanian inilah yang identik dengan jiwa anak muda.

Dalam kesempatan yang sama, Rifai, Ketua DPD I KNPI Papua mengatakan bahwa pemimpin kedepan haruslah berkriteria P-A-P-U-A (Proteksi, Afirmatif, Pemberdayaan, Universal, Aktualisasi Intelektual). Proteksi atau perlindungan, artinya sang pemimpin memberikan perlakuan yang sama dalam melakukan proteksi untuk rakyat dari Sabang sampai Merauke. Lalu, afirmatif (keberpihakan), dimana sang pemimpin harus tegas dalam menyatakan keberpihakannnya. Pemberdayaan, hal ini terkait dengan memaksimalkan potensi-potensi yang ada. Universal sendiri tentunya terkait dengan asas keadilan. Sedangkan yang terakhir yakni Aktualisasi Intelektual terkait dengan soff skill yang bersangkutan.

Semua orang tentu memiliki postur ideal yang berbeda terhadap sosok pemimpin yang diharapkan mampu membawa negeri ini menjadi lebih baik. Dan berdasarkan itu pula, setiap orang berhak memilih siapa yang akan Ia coblos dalam pemilu kelak. Namun, sayangnya sebuah fakta menyatakan bahwa demokrasi yang berkembang di negeri ini tidak ubahnya ibarat bola es yang masuk kedalam sebuah wajan yang sudah berada dalam tungku yang temperaturnya sudah disetting sedemikian rupa.

Dalam seminar kemarin, Yusuf Kurnia, Ketua Pemuda Muhammadiyah Jabar mengatakan bahwa sesungguhnya kita tidak punya pilihan untuk mencari, karena pilihan sudah disodorkan oleh partai politik. Selain itu Ia pun menambahkan bahwa praktek-praktek dimana masih adanya kekangan dari internal partai terhadap desakan kaum muda masih ketal, Ia mencontohkan pada politikus di DPR yang melakukan manuver yang berbuah pemecatan atau dianugerahi nomor urut bawah di pemilu legislatif 2009. Hal-hal semacam ini yang memurutnya menjadi persoalan bagi pemimpin muda untuk muncul.

Masih dalam seminar yang sama, Erwin, Ass Redaktur Pikiran Rakyat mengatakan bahwa terpilihnya pemimpin muda bisa jadi dari parpol menengah kebawah. Hal ini, terkait dengan masih terlalu kuatnya dominasi kelompok dalam partai-partai besar yang umumnya didominasi golongan tua. Adapun sebagai fakta Ia menyebutkan bahwa terpilihnya pasangan Heryawan dan Dede Yusuf dalam Pilgub Jabar kemarin yang mengusung isu pemimpin muda berasal dari koalisi dua partai menengah.

Muda dan Revolusioner

Pemimpin muda seyogyanya tidaklah hanya dilihat dari sisi usia, namun juga dari visi dan pola pikirnya. Tidak sedikit kita dihadapkan pada realita dimana banyak anak muda dari sisi usia berpikiran ‘kolot’ dan tidak sedikit pula kakek atau nenek-nenek yang berjiwa muda.

Sepakat dengan pernyataan Husni, Ketua DPD I KNPI Jabar seperti yang ditulis diatas, penulis menganggap bahwa lebih arif jika kita bicara pemimpin ideal, dibandingkan pemimpin muda yang semata-mata tidak ubahnya sebagai merek dagang. Namun, ideal disini tentunya harus didasarkan pada kebutuhan bangsa dan negara yang akan dipimpinya, yakni kebutuhan mendesak Indonesia.

Dalam bukunya, Aksi Masa (1926), Tan Malaka yang disebut-sebut sebagai pendiri partai pertama di Indonesia memberi jalan keluar untuk menemukan pemimpin ideal yang Ia katakan sebagai pemimpin revolusioner dengan sistem politik kepartaian : “Partai mesti berhubungan rapat dengan massa terutama dalam saat yang penting, dengan segala golongan rakyat dari seluruh kepulauan Indonesia. Dengan tidak berhubungan seperti itu, tak akan ada pimpinan yang revolusioner.”

Menurut Tan Malaka, Sang Pemimpin haruslah tahu kondisi yang akan dipimpinnya, dan untuk tahu maka Ia haruslah mencari tahu, dan setelah tahu Ia harus mepunyai jalan keluar secara konkret. Mencari dasar untuk kemudian membuat sesuatu yang lain (lebih baik) adalah makna sesungguhnya revolusi, dan pemimpin berjiwa revolusionerlah yang sesungguhnya kita butuhkan saat ini, bukan lagi sosok reforman yang hanya mengganti stuktur permukaan.

Berkaca pada perkembangan menuju 2009 saat ini, kita bisa simak siapa saja nama yang muncul sebagai calon presiden ataupun wakilnya, juga nama-nama yang sudah terdaftar di KPU sebagai calon legislatif. Adakah diantara mereka yang berjiwa juga memiliki pemikiran yang revolusioner?

Iklan
Kategori:opinion
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: